Membaring dalam Ilmu Pelayaran: Pengertian, Jenis, Syarat, dan Cara Menentukan Posisi Kapal

Membaring merupakan salah satu keterampilan dasar dalam ilmu pelayaran datar yang digunakan untuk menentukan posisi kapal berdasarkan arah benda-benda yang terlihat di sekitarnya. Benda tersebut dapat berupa mercusuar, tanjung, menara, atau objek lain yang tercantum pada peta laut.

Keterampilan ini penting bagi pelaut karena posisi kapal perlu diketahui secara berkala selama pelayaran. Dengan melakukan baringan terhadap dua atau lebih objek yang dikenal, navigator dapat menentukan titik posisi kapal pada peta laut.

membaring dalam ilmu pelayaran datar

Pengertian Membaring dalam Ilmu Pelayaran

Membaring adalah mengukur arah suatu benda terhadap kapal untuk membantu menentukan posisi kapal di peta laut. Pengukuran dilakukan menggunakan alat baring, seperti alat bidik pada kompas, dengan mengacu pada sistem arah yang digunakan.

Baringan dinyatakan dalam sudut dari 000° sampai 359°, dengan pengukuran arah searah jarum jam dari arah utara yang menjadi acuan. Sebagai contoh, arah 090° menunjukkan timur, 180° menunjukkan selatan, dan 270° menunjukkan barat.

Objek yang digunakan sebagai benda baringan harus dapat dikenali dan dicocokkan dengan objek yang tergambar pada peta laut. Contohnya adalah mercusuar, ujung tanjung, bukit yang memiliki bentuk khas, menara, atau bangunan penanda navigasi.

Benda baringan yang tepat membantu navigator menghubungkan pengamatan langsung di laut dengan informasi pada peta. Sebaliknya, kesalahan mengenali objek dapat menghasilkan posisi kapal yang keliru.

Jenis-Jenis Garis Baringan

Dalam ilmu pelayaran datar, baringan dibedakan menjadi tiga jenis utama, yaitu baringan sejati, baringan magnetik, dan baringan relatif. Ketiganya memiliki acuan pengukuran yang berbeda.

1. Baringan Sejati (True Bearing)

Baringan sejati adalah sudut arah suatu benda yang diukur dari utara sejati searah jarum jam. Utara sejati merupakan arah menuju Kutub Utara geografis.

Baringan ini dinyatakan dalam derajat dari 000° hingga kurang dari 360°. Sebagai contoh, apabila sebuah mercusuar berada pada arah 045° dari utara sejati kapal, baringan sejatinya adalah 045°.

Baringan sejati dapat digunakan untuk memplot garis posisi pada peta laut. Namun, apabila pengukuran awal dilakukan menggunakan kompas magnetik, hasilnya harus dikoreksi terlebih dahulu dengan memperhitungkan variasi magnetik dan deviasi kompas sesuai kebutuhan.

2. Baringan Magnetik (Magnetic Bearing)

Baringan magnetik adalah sudut arah suatu benda yang diukur dari utara magnetik searah jarum jam.

Utara magnetik merupakan arah yang ditunjukkan oleh medan magnet bumi. Arah ini tidak selalu berimpit dengan utara sejati. Selisih sudut antara keduanya disebut variasi magnetik (variation).

Ketika menggunakan kompas magnetik di kapal, hasil pembacaan juga dapat dipengaruhi oleh medan magnet dari kapal dan peralatan di sekitarnya. Pengaruh tersebut disebut deviasi kompas (deviation).

Karena itu, baringan yang diperoleh dari kompas perlu dikoreksi sesuai acuan yang digunakan sebelum diubah menjadi baringan sejati untuk diplot pada peta.

3. Baringan Relatif (Relative Bearing)

Baringan relatif adalah sudut arah suatu benda yang diukur dari garis haluan kapal, dengan arah depan kapal sebagai 000° dan pengukuran dilanjutkan searah jarum jam hingga 359°.

Contohnya, apabila sebuah kapal mengarah pada haluan 000° dan mercusuar terlihat di sisi kanan kapal dengan sudut relatif 090°, mercusuar tersebut berada tepat di arah kanan atau melintang kanan kapal.

Baringan relatif berguna untuk mengetahui posisi benda terhadap arah hadap kapal. Akan tetapi, baringan relatif tidak langsung menunjukkan arah benda terhadap utara sejati karena nilainya bergantung pada haluan kapal.

Untuk memperoleh baringan sejati dari baringan relatif, navigator harus memperhitungkan haluan sejati kapal dengan rumus:

Baringan sejati = Haluan sejati + Baringan relatif

Hasil perhitungan kemudian dinormalisasi ke rentang 000° sampai kurang dari 360°. Jika hasilnya 360° atau lebih, kurangi dengan 360°.

Rumus ini berlaku ketika haluan dan baringan relatif dinyatakan dengan acuan serta arah pengukuran yang sesuai.

Syarat-Syarat dalam Melakukan Baringan

Agar hasil pengukuran dapat digunakan untuk menentukan posisi kapal, beberapa persyaratan perlu diperhatikan.

Pertama, objek baringan harus dikenal. Pilih benda yang dapat diidentifikasi dengan jelas dan tercantum pada peta laut yang digunakan. Mercusuar, tanjung, dan menara penanda merupakan contoh objek yang sering digunakan.

Kedua, alat baring harus terpasang dan digunakan dengan benar. Pastikan alat berada pada posisi yang tepat, tidak longgar, dan dapat digunakan untuk membidik objek secara akurat.

Ketiga, lakukan pengukuran dengan cermat. Hindari kesalahan pembidikan, pembacaan angka, dan pencatatan hasil baringan.

Keempat, catat haluan kapal pada saat pengukuran. Informasi ini diperlukan terutama ketika mengubah baringan relatif menjadi baringan sejati.

Kelima, koreksi baringan sesuai jenisnya. Apabila pengukuran menggunakan kompas magnetik, perhitungkan variasi dan deviasi yang berlaku untuk memperoleh baringan sejati.

Keenam, pilih objek baringan dengan susunan yang baik. Utamakan objek yang mudah dikenali dan memiliki jarak serta arah yang sesuai untuk menghasilkan perpotongan garis posisi yang jelas.

Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, ambil baringan terhadap beberapa objek dalam waktu yang berdekatan. Kapal yang sedang bergerak akan mengalami perubahan posisi terhadap objek di sekitarnya, sehingga perbedaan waktu pengukuran dapat memengaruhi hasil penentuan posisi.

Prosedur Melakukan Baringan

Pekerjaan membaring harus dilakukan secara sistematis. Berikut tahapan yang dapat digunakan saat latihan navigasi menggunakan peta laut dan alat baring.

Langkah 1: Siapkan alat dan peta laut

Siapkan kompas yang dilengkapi alat bidik atau alat baring yang sesuai, peta laut yang relevan, serta buku catatan navigasi.

Pastikan kompas dapat dibaca dengan jelas dan informasi variasi magnetik pada peta telah diperiksa. Jika menggunakan kompas magnetik kapal, gunakan nilai deviasi yang sesuai dengan kondisi kompas tersebut.

Langkah 2: Pilih benda baringan

Amati objek di sekitar kapal, lalu pilih sedikitnya dua benda yang dapat dikenali dengan jelas pada peta laut.

Contohnya, navigator melihat sebuah tanjung di depan kapal dan sebuah mercusuar di sisi kanan. Kedua objek tersebut dapat digunakan sebagai benda baringan apabila posisi dan identitasnya pada peta dapat dipastikan.

Langkah 3: Baring benda pertama

Arahkan alat bidik ke benda pertama. Untuk latihan dasar, objek yang berada dekat arah haluan atau buritan dapat dibaring terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan objek yang berada mendekati arah melintang kapal.

Baca sudut yang ditunjukkan alat dan catat jenis baringannya. Jika pengukuran berasal dari kompas magnetik, catat sebagai baringan pedoman sebelum melakukan koreksi yang diperlukan.

Catat pula waktu pengukuran agar hasilnya dapat dibandingkan dengan baringan berikutnya.

Langkah 4: Baring benda kedua

Segera bidik benda kedua dan catat hasilnya. Misalnya, baringan pedoman terhadap Tanjung A terbaca 350°, sedangkan baringan pedoman terhadap Mercusuar B terbaca 120°.

Angka tersebut hanya contoh pembacaan. Sebelum digunakan untuk menentukan posisi pada peta, pastikan keduanya telah dikoreksi ke acuan yang sama, yaitu baringan sejati.

Langkah 5: Ubah baringan menjadi garis posisi

Setelah mendapatkan baringan sejati, tentukan arah garis dari setiap objek menuju kapal. Pada peta, garis posisi ditarik melalui objek yang dibaring dengan arah kebalikan dari baringan sejati objek tersebut.

Sebagai contoh, jika kapal membaring sebuah mercusuar dengan baringan sejati 120°, arah dari mercusuar menuju kapal adalah 300°. Garis posisi ditarik dari mercusuar mengikuti arah tersebut.

Langkah yang sama dilakukan untuk objek kedua.

Langkah 6: Tentukan titik posisi kapal

Titik perpotongan kedua garis posisi menunjukkan perkiraan posisi kapal pada saat pengukuran dilakukan.

Jika menggunakan tiga objek atau lebih, garis-garis posisi dapat membentuk bidang kecil yang dikenal sebagai segitiga kesalahan (cocked hat). Kondisi ini dapat terjadi akibat ketidakpastian pengamatan, perubahan posisi kapal selama pengukuran, atau kesalahan alat dan pemetaan.

Navigator perlu memeriksa kembali hasilnya, terutama jika perpotongan garis tidak membentuk titik yang jelas.

Urutan Membaring dan Pemilihan Objek

Ketika kapal sedang bergerak, arah benda terhadap kapal terus berubah. Oleh karena itu, urutan pengambilan baringan perlu diperhatikan agar perbedaan waktu antarpengukuran tidak terlalu besar.

1. Dahulukan objek Hampir atau tepat di arah haluan

Dalam metode latihan yang umum digunakan, objek yang berada dekat arah haluan atau buritan dapat dibaring terlebih dahulu, kemudian objek yang berada mendekati arah melintang kapal.

Objek di dekat arah melintang kapal cenderung mengalami perubahan sudut relatif yang lebih cepat ketika kapal bergerak maju. Karena itu, pengukuran terhadap objek tersebut sebaiknya dilakukan tanpa penundaan.

Urutan ini membantu mengurangi perbedaan waktu antara pengukuran pertama dan berikutnya.

2. Perhatikan jarak objek dari kapal

Objek yang dekat dengan kapal umumnya menunjukkan perubahan arah relatif yang lebih cepat dibandingkan objek yang jauh, untuk gerakan kapal yang sebanding. Oleh sebab itu, objek dekat perlu dibaring dengan cepat agar sudut yang dicatat sesuai dengan kondisi saat pengamatan.

Namun, urutan pengukuran juga perlu mempertimbangkan posisi objek, kejelasan pengamatan, dan kondisi kapal.

3. Pilih sudut perpotongan garis yang baik

Usahakan agar dua garis posisi membentuk sudut perpotongan mendekati 90°. Hindari memilih dua objek yang menghasilkan garis posisi hampir sejajar atau membentuk sudut yang sangat kecil.

Jika sudut perpotongan terlalu kecil, sedikit kesalahan dalam pengukuran dapat menghasilkan pergeseran posisi yang besar pada peta. Kondisi serupa terjadi ketika dua garis hampir berimpit dari arah berlawanan.

Sebagai contoh, dua garis posisi yang berpotongan mendekati sudut siku-siku umumnya menghasilkan penentuan posisi yang lebih baik dibandingkan dua garis yang hanya berpotongan pada sudut 5° atau 175°.

Mengapa Baringan Harus Dilakukan dengan Cepat dan Tepat?

Kapal terus bergerak selama pengamatan berlangsung. Jika waktu antara pengukuran objek pertama dan kedua terlalu lama, kedua garis posisi yang diplot dapat mewakili posisi kapal pada waktu yang berbeda.

Akibatnya, titik perpotongan garis tidak sepenuhnya menggambarkan posisi kapal pada satu waktu yang sama.

Untuk mengurangi kesalahan tersebut, lakukan pembidikan secara berurutan dalam waktu sesingkat yang wajar, catat waktu pengukuran, dan lakukan koreksi baringan dengan benar.

Kecepatan pengukuran tetap harus diimbangi ketelitian. Jangan mengorbankan identifikasi objek atau ketepatan pembacaan hanya demi menyelesaikan pengamatan dengan cepat.

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Membaring dalam Ilmu Pelayaran: Pengertian, Jenis, Syarat, dan Cara Menentukan Posisi Kapal"