Pengertian Stowage Factor dan Broken Stowage Serta Cara Menghitungnya
Dua konsep dasar yang wajib dipahami dalam pengaturan dan penanganan muatan adalah stowage factor dan broken stowage. Setiap jenis barang memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi berat, volume, maupun bentuk. Perbedaan inilah yang harus diperhitungkan dengan cermat agar penataan dan penyusunan muatan di dalam palka dapat maksimal, efisien dan aman.
Pengertian Broken Stowage
Yang dimaksud dengan Broken Stowage adalah besarnya persentase (%) ruang yang tidak terpakai dalam proses penataan muatan di dalam palka. Ruang kosong ini muncul karena bentuk, ukuran, dan sifat barang tidak selalu sesuai dengan bentuk ruang muat, sehingga sebagian kapasitas tidak dapat terisi secara optimal.
Ruangan yang tidak terpakai (broken stowage) suatu palka dapat dihitung dengan rumus:
Broken Stowage = (Volume Palka – Volume Muatan) / Volume Palka x 100%
Di atas kapal broken stowage terjadi akibat adanya celah antarbarang, bentuk barang yang tidak seragam, penggunaan dunnage (alas kayu), struktur ruang muat yang tidak simetris, atau keterbatasan dalam metode penumpukan. Semakin besar nilai broken stowage, semakin menurun efisiensi pemanfaatan ruang muat.
Nilai broken stowage ini penting dipertimbangkan karena berpengaruh langsung terhadap jumlah muatan yang dapat diangkut, efisiensi ruang, serta optimalisasi biaya operasional kapal. Setiap jenis kargo juga memiliki karakter broken stowage yang berbeda tergantung bentuk, kemasan, dan metode penataan.
Pengertian Stowage Factor
Yang dimaksud dengan Stowage Factor (SF) adalah besarnya volume ruang yang dibutuhkan untuk memuat 1 long ton (1.016 kg) barang tertentu, yang dinyatakan dalam satuan kaki kubik per ton (cuft/ton). Stowage factor menggambarkan seberapa “besar” ruang yang diperlukan oleh suatu komoditas ketika dimuat ke dalam kapal.
Setiap pemisahan jenis muatan memiliki SF yang berbeda tergantung kepadatan, bentuk, dan cara pengepakan. Muatan dengan SF kecil berarti barang tersebut padat dan hanya memerlukan sedikit ruang per ton misalnya scrap metal atau semen. Sebaliknya, muatan dengan SF besar seperti kapas atau barang-barang ringan namun bervolume besar membutuhkan ruang yang lebih luas.
Mengetahui nilai stowage factor sangat penting dalam perencanaan muatan karena menentukan apakah kapal akan mencapai batas berat (deadweight limited) atau batas volume (cubics limited) terlebih dahulu. Pemahaman ini membantu perencana muatan (cargo planner) dalam memaksimalkan kapasitas ruang muat serta memastikan keselamatan dan stabilitas kapal selama pelayaran, 1 longton = 1016 kg.
Muatan ringan memiliki SF > 40 cuft/ton, muatan berat memiliki SF < 40 cuft/ton, dan muatan berharga akan dilihat dari muatannya. sehingga dapat dikatakan bahwa:
- Jika kapal dimuat dengan muatan yang SF-nya > 40 maka kapal akan penuh tetapi draft-nya tidak maksimum.
- Jika kapal dimuat dengan muatan yang SF-nya < 40 maka kapal tidak akan penuh tetapi draft-nya maksimum.
- Jika kapal dimuat dengan muatan yang SF-nya = 40 maka kapal akan penuh dan mencapai ful and down.
Muatan yang > SF-nya dari 40, maka disiapkan uang tambang yang dihitung dengan volume muatan.
Muatan yang < SF-nya dari 40, maka yang berarti palka tidak penuh tetapi draft kapal maksimum maka ditetapkan uang tambang dengan berat muatan.
Cara Menghitung Stowage Factor
1. Menghitung Stowage Factor dalam Cuft/Ton
Cuft/ton // SF = 2240 / d
v = p × l × t // d = w / v
Cuft/ton // SF = V × 2240 / d // lbs
Cuft // SF = 2240 × 12245 / w // Curah
Cuft // SF = 2240 × V / d // Ons
Cuft/ton // SF = 2240 × 16,05 / (1000 × bj) // bj (density)
Keterangan
- L = Broken Stowage
- v = Volume colli muatan dalam ft³
- w = Berat colli muatan dalam lbs
- d = Density (w / v)
Jika Tidak ada Broken Stowage, maka:
Dalam Ton * T = V / SF
Jml. barang * P = V / v
Volume Palka * V = T × v
Dengan adanya Broken Stowage, maka:
T = V × (1 – L) / SF, dengan V = T × SF / (1 – L)
P = V × (1 – L) / v, dengan L = BS
V = T × v / (1 – L)
Keterangan:
- SF = Stowage Factor
- T = Jumlah/Bobot muatan yang dimuat
- V = Volume Ruangan
- L = Broken Stowage (BS) dalam %
- v = Volume Muatan tiap potong/collie
- P = Jumlah Potongan/Collie
- d = Density
- w = Berat/Bobot tiap potongan/collie
Langkah Pengerjaan:
- Tentukan berapa jenis muatan
- Apa yang ditanyakan: T = (Ton muatan), V = (Volume ruang muat) dan P = (Jumlah koli muatan)
- Apakah ada Broken Stowage atau tidak?
Contoh 1:
Sebuah ruang muat/palka mempunyai Bale Capacity = 60.000 cuft akan dimuati beras dengan SF = 60 cuft/ton. Bila untuk pemuatan tersebut BS = 10%. Berapa ton beras dapat dimuat?
Jawab:
T = V × (1 – BS) / SF = 60.000 × (1 – 0,1) / 60 = 900 ton
Contoh 2
Palka dengan Bale Capacity = 90.000 cuft akan dimuati dengan teh dalam peti, yang tiap peti berukuran p × l × t = 3' × 2' × 1'06" dan setiap petinya mempunyai berat ± 360 lbs. Bila untuk pemuatan tersebut BS = 5%.
Ditanyakan:
1. Berapa ton peti teh dapat dimuat?
2. Berapa jumlah peti teh dapat dimuat?
Jawab:
1. T = V × (1 – BS) / SF
Diketahui:
V = 90.000 cuft
v = 3' × 2' × 1'06"
= 3 × 2 × 1,5 = 9.............. w = 360 lbs
SF = (v × 2240) / w = (9 × 2240) / 360 = 56 cuft/ton
T = 90.000 × (1 – 0,05) / 56 = 1526,8 ton
2. P = V × (1 – BS) / v = 90.000 × (1 – 0,05) / 9 = 9.500 peti
2. Menghitung Stowage Factor dalam M³/Ton
Yang dimaksud Stowage Factor (apabila satuannya meter kubik/ton) adalah besarnya volume ruangan dalam meter kubik (m³) yang dibutuhkan untuk memuat muatan seberat 1 ton.
a. Muatan ringan → SF > 1,114 m³/ton
b. Muatan berat → SF < 1,114 m³/ton
c. Muatan standar → SF = 1,114 m³/ton
Sehingga:
a. SF = v / W
dengan :
v = Volume muatan (m³)
W = Berat muatan (ton)
Jika diketahui volume 1 koli muatan (v) dengan beratnya (g), maka:
SF = 1000 × v / g
dengan:
v = Volume (m³) satu koli muatan
g = Berat (kg) satu koli muatan
b. SF = 1 / BJ
Untuk menghitung berat / bobot muatan dalam satu ruang muat dan diperkirakan ada broken stowage, maka volume ruangan yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai berikut:
Berat/Bobot muatan (T) = Volume Ruangan × (1 – BS) / SF
sedangkan untuk menghitung Volume Ruangan yang dibutuhkan dimana dalam pengaturan dan penanganan muatan diperkirakan ada broken stowage (BS), maka volume Ruangan yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai berikut:
Volume ruangan yang dibutuhkan (V) = Berat Muatan × SF / (1 – BS)
Untuk menghitung jumlah koli muatan yang dapat dimuat dalam suatu ruangan dapat dihitung sebagai berikut:
Jumlah koli muatan (P) = Volume Ruang yang digunakan × (1 – BS) / Volume 1 (satu) koli muatan
atau:
P = Jumlah Berat Muatan Keseluruhan / Berat 1 (satu) koli muatan
Contoh 3
Ruangan muat/palka memiliki volume 1.020 m³, terisi penuh dengan muatan karung-karungan. SF = 1,95 m³/ton. Berat tiap karung = 80 kg. BS = 10%. Hitung berapa karung jumlah muatan tersebut.
Jawaban:
v = T × SF = 80 × 1,95 = 156 m³/ton
P = 1020 × (1 – BS) / v = 1020 × 0,9 / 156 = 5.885 koli
Contoh 2
Dikeathui data sebagai berikut: total muatan 12.000 karung, berat tiap karung 80 kg. Volume palka 2.200 m³. SF = 1,8 m³/ton. Hitung berapa nilai BS ?
Jawab:
v = T × SF = (80/1000) × 1,8 = 0,144
Total v = 12.000 × 0,144 = 1728 m³
BS = (V – v) / V × 100%
= (2200 – 1728) / 2200 × 100%
= 21,45%
Jadi, nilai broken stowage adalah 21,45%
Cara Mencegah Terjadinya Stowage Factor
1. Memahami Jenis Masalah Stowage Factor
Sebelum mengambil tindakan, perwira kapal harus mengetahui apakah kapal berada dalam kondisi volume-limited atau weight-limited. Kondisi volume-limited terjadi ketika kapal kehabisan ruang palka meskipun bobot yang tersedia masih mencukupi, biasanya disebabkan oleh muatan dengan stowage factor tinggi seperti kapas, plastik, karton, atau barang ringan lainnya.
Sebaliknya, kondisi weight-limited muncul ketika kapal telah mencapai batas bobot maksimum walaupun ruang muat masih tersisa, umumnya terjadi pada muatan dengan stowage factor rendah seperti semen, baja, atau mineral.
2. Melakukan Perencanaan Muatan yang Akurat
Perhitungan stowage factor harus dilakukan sebelum kapal mulai memuat agar perwira dapat menentukan apakah jumlah muatan sesuai dengan kapasitas ruang dan deadweight kapal, mengelompokkan muatan berdasarkan tujuan pelabuhan serta karakteristiknya, dan menghindari risiko kelebihan ruang ataupun kekurangan ruang selama proses pemuatan.
3. Mengoptimalkan Penggunaan Ruang Muat
Jika stowage factor suatu muatan tinggi dan membutuhkan ruang yang besar, beberapa langkah teknis dapat dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang palka. Penyusunan muatan harus dilakukan secara padat dan teratur, misalnya dengan menumpuk barang secara rapi serta menerapkan teknik interlocking agar celah antarbarang dapat diminimalkan.
Selain itu, penggunaan dunnage dan material pengisi juga diperlukan untuk menutup rongga-rongga besar sehingga ruang yang tersedia dapat digunakan secara optimal. Upaya lain yang efektif adalah melakukan unitisasi muatan, yaitu menggabungkan barang-barang berukuran kecil ke dalam pallet atau bundling agar lebih mudah ditata.
4. Menyesuaikan Jumlah atau Bentuk Muatan
Jika muatan yang datang memiliki stowage factor lebih besar dari perhitungan awal, beberapa langkah penyesuaian perlu dipertimbangkan. Salah satu tindakan adalah melakukan repackaging atau meminta shipper melakukan pemadatan ulang apabila memungkinkan, sehingga volume yang dibutuhkan dapat dikurangi.
Selain itu, pengurangan sebagian muatan (part cargo) juga dapat dilakukan untuk mencegah overload dan menjaga keseimbangan kapal. Tindakan lainnya adalah mengatur ulang rencana muat (re-stowage planning) agar muatan yang ringan namun bervolume besar dapat ditempatkan pada ruang yang paling sesuai.
5. Memilih Kombinasi Muatan yang Tepat
Salah satu cara paling efektif mengatasi masalah SF adalah menyeimbangkan antara muatan dengan SF tinggi dan muatan dengan SF rendah.
Contoh jika barang kapas (SF besar) dipadukan dengan semen (SF kecil), maka total kebutuhan ruang dapat lebih seimbang sehingga palka tidak cepat penuh oleh salah satu jenis muatan.
Pengaturan kombinasi seperti ini sangat penting terutama pada pelayaran liner atau tramp yang memuat beberapa jenis kargo sekaligus.
6. Melakukan Evaluasi dan Pencatatan
Selama proses pemuatan, perwira harus melakukan pengecekan rutin terhadap volume muatan aktual untuk memastikan kesesuaian antara perhitungan dan kondisi di lapangan. Setiap perubahan yang terjadi perlu dicatat dalam stowage plan agar rencana muat tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, evaluasi terhadap broken stowage juga penting dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi pemanfaatan ruang muat. Seluruh catatan ini sangat penting sebagai dasar laporan, perhitungan akhir, serta sebagai bukti jika terjadi klaim atau inspeksi.

Post a Comment for "Pengertian Stowage Factor dan Broken Stowage Serta Cara Menghitungnya"
Sobat pelaut yang ingin bertanya atau berbagi pengalaman silahkan tinggalkan komentar di bawah ini.
Post a Comment