Penjelasan Tentang Full and Down Penanganan Muatan Kapal

Konsep Full and Down adalah prinsip dasar dalam perencanaan muatan kapal yang bertujuan memaksimalkan pemanfaatan ruang dan daya angkut tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Sebagai seorang Mualim I di atas kapal harus dapat mengisi kapalnya dengan muatan yang seoptimal mungkin serta memperhatikan aspek melindungi muatan serta isu strategis tentang keselamatan pelayaran dan perlindungan lingkungan (Marine Environment).

full and down muatan kapal

Pengertian Full and Down

Full and Down diartikan bahwa kapal tersebut dimuati hingga ruang palka atau tangki terisi penuh dan mencapai sarat maksimum yang diizinkan. Jadi yang dimaksud dengan Full and Down adalah suatu pemuatan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga ruang muat yang tersedia terisi penuh dan kapal terbenam pada sarat maksimal yang diijinkan.

Full and Down merupakan kondisi ketika kapal telah dimuati secara optimal hingga memenuhi dua batas utama yakni ruang palka atau tangki terisi penuh dan kapal mencapai sarat maksimum yang diizinkan. Artinya, kapal bukan hanya penuh secara volume, tetapi juga telah mencapai batas bobot angkut maksimum yang aman menurut sertifikat dan regulasi pelayaran.

Full artinya ruang muatan terisi penuh dan dalam perhitungan dimasukkan kemungkinan terjadinya ruang rugi Broken Stowage, dengan kata lain yang diperhitungkan adalah Effective Space. Pada tahap ini, Cargo Officer harus mempertimbangkan adanya broken stowage, yaitu ruang terbuang yang tidak bisa terpakai akibat bentuk muatan atau metode penataan. Oleh karena itu, yang diperhitungkan adalah effective space, yaitu ruang efektif yang benar-benar dapat diisi muatan.

Down” berarti kapal telah mencapai sarat maksimum sesuai batas garis muat (Load Line). Kondisi ini dihitung berdasarkan Deadweight Tonnage (DWT) kapal, setelah dikurangi Operating Load seperti perbekalan, air tawar, bahan bakar, dan perlengkapan lainnya. 

Jika kapal telah down, maka penambahan muatan tidak lagi aman karena dapat melewati batas draft yang diizinkan.Kapal akan mencapai full and down jika Stowage Factor-nya rata-rata adalah 50 cuft/ton atau 1,4 cbm/ton, disebut Standard Stowage Factor. 

Sebuah kapal dapat mencapai kondisi Full and Down jika memuat dua jenis komoditi, yaitu muatan berat dan muatan ringan. Muatan berat (low SF) akan membuat kapal cepat down tetapi belum tentu full. Muatan ringan (high SF) akan membuat kapal cepat full tetapi belum tentu down. Karena itu, kapal biasanya memuat kombinasi muatan berat dan ringan agar mampu mencapai titik ideal penuh secara volume dan penuh secara berat.

Syarat Mencapai Kondisi Full and Down

1. Volume muatan = volume ruang muat

Semua ruang muat dapat diisi secara efektif tanpa tersisa ruang kosong signifikan. Ruang muat an harus dapat dimanfaatkan secara efektif, termasuk mempertimbangkan bentuk barang, metode penataan, dan adanya broken stowage. Chief Officer perlu menghitung effective capacity agar ruang kosong tidak terlalu banyak sehingga efisiensi pemuatan tercapai. 

2. Berat muatan = daya angkut (deadweight)

Perhitungan bobot muatan harus disesuaikan dengan kemampuan kapal membawa beban berdasarkan deadweight tonnage (DWT). Jika muatan terlalu ringan, kapal mungkin full tetapi belum down; jika terlalu berat, kapal bisa mencapai draft berbahaya sebelum ruang terisi penuh. 

3. Sarat kapal = sarat maksimal yang diizinkan

Sarat kapal harus berada pada batas yang telah ditentukan oleh peraturan Load Line, yang memastikan kapal tetap memiliki cadangan stabilitas dan freeboard yang cukup. Jika draft melebihi garis muat, risiko seperti pengurangan daya apung, stabilitas buruk, dan bahaya keselamatan akan meningkat.

Cara Menghitung Full and Down

Memuat Dua Jenis Muatan atau Lebih

Contoh 1

Misalnya MV. Umbul Mas mempunyai DWT = 10.000 ton, maka volume ruang muat yang ideal adalah 10.000 × 50 cft = 500.000 cft atau 10.000 × 1,4 cbm = 1.400 cbm.

Tentu saja untuk mencapai nilai standard SF ini tidak mudah, sehingga lebih sering terjadi keadaan pemuatan adalah “Full tetapi tidak Down” atau “Down tetapi tidak Full”.

Dalam perhitungan untuk menjadikan kapal mencapai kondisi Full and Down dapat dihitung berat masing-masing muatan yang harus dimuat.

Volume efektif ruangan = V m³, Cargo DWT = T ton, akan dimuat hingga mencapai kondisi Full and Down dengan muatan, yaitu muatan A, yang SF-nya = X (muatan berat muatan B, yang SF-nya = Y (muatan ringan). Hitunglah masing-masing berat muatan tersebut!

Cara Jawab:

Misalkan muatan A = X ton, dan muatan B = Y ton

Agar Down = X + Y = T

Agar Full = X × SF.X + Y × SF.Y

Dari kedua persamaan di atas dapat dicari nilai X dan Y

Apabila kapal akan memuat lebih dari 2 (dua) jenis muatan, maka dalam perhitungan untuk menjadikan kapal mencapai keadaan Full and Down dapat dilakukan dengan mempergunakan “Rumus Taylor”, dimana menghitung pembagian masing-masing dari berat muatan didahului dengan mencari berat muatan yang memiliki Stowage Factor terbesar.

Contoh 2:

Misalnya Volume efektif ruangan = V m³, Cargo DWT = T ton, akan dimuat hingga mencapai kondisi Full and Down dengan muatan-muatan sebagai berikut muatan A, yang SF-nya = 0,28 m³/ton (muatan berat), muatan B, yang SF-nya = 1,10 m³/ton (muatan berat), muatan C, yang SF-nya = 2,14 m³/ton (muatan ringan). Hitunglah masing-masing berat muatan tersebut!

Cara Jawab:

TC = (V – (T × SF.A)) / ((SF.C – SF.A) + (SF.C – SF.B))

TB = (V' – (T' × SF.A)) / (SF.B – SF.A)

TA = T – (TC + TB)

TC + TB + TA = Down

VC + VB + VA = Full

V' = V – VC

T' = T – TC

VC = TC × SF.C

VB = TB × SF.B

VA = TA × SF.A

Keterangan:

V = Volume ruang muat

T = Cargo DWT

SF.A = SF terkecil

SF.C = SF terbesar

Perhitungan Full and Down dengan Satuan Kaki Kubik (Cft)

Contoh 1

MV. Seram Lima memiliki DWT ≈ 12.000 ton dan hold capacity setiap palka sebagaimana terlihat pada gambar. Kapal akan dimuat sawm timber SF = 100 cft/ton, dan pelat besi SF = 20 cft/ton, hingga full and down. Dalam pemuatan ini diperhitungkan broken stowage = 10% dan pemakaian operating load selama di pelabuhan diabaikan. Di atas kapal saat ini sudah ada muatan FO (fuel oil) = 1.200 ton, FW (fresh water) = 600 ton dan store = 200 ton. Hitung pembagian muatan Sawn Timber dan Pelat Besi di masing-masing palka!

Cara Jawab:

DWT = 12.000 ton

Operating Load = 2.000 ton (FO + FW + Store)

Cargo DWT = 10.000 ton

Jika kapal ingin Down, maka jumlah kedua muatan harus = 10.000 ton

Misalnya:

Muatan Sawn Timber = X ton, akan memerlukan ruangan sebesar

X × SF = X × 100 = 100 X cft

Misalnya:

Muatan Pelat Besi = Y ton, akan memerlukan ruangan sebesar

Y × SF = Y × 20 = 20 Y cft

Palka 1: Volume: 90.000, BS (10%): 9.000 dan Effective space: 81.000

Palka 2: Volume: 100.000, BS (10%): 10.000 dan Effective space: 90.000

Palka 3: Volume: 110.000, BS (10%): 11.000 dan Effective space: 99.000

Palka 4: Volume: 120.000, BS (10%): 12.000 dan Effective space: 108.000

Palka 5: Volume: 80.000, BS (10%): 8.000 dan Effective space: 72.000

Jadi Total, Volume: 500.000 cft, BS(10%): 50.000 cft dan Effective Space: 450.000cft

Jika kapal ingin Full, maka jumlah volume kedua muatan = 450.000 cft.

Persamaan I: Jika kapal ingin Down: X + Y = 10.000 ton

Persamaan II: Jika kapal ingin Full: 100 X + 20 Y = 450.000 cft

X + y = 10000 = [x 20]  20x + 20y = 200000

100 x + 20 y = 450000 = [x 1] 100 x + 20y = 450000

Jadi, hasil pengurangan keduanya:

80 x = 250000

X = 250000 / 80 = 3,125 ton

Berat muatan Sawn Timber = 3.125 ton

Berat muatan Pelat Besi = 6.875 ton

Pembagian muatan setiap palka adalah sebagai berikut:

Palka Sawn Timber : 3.125 ton

Pelat Besi:6.875 ton

Effective space: 10.000 ton

Perlu diperhatikan kembali tentang ketentuan dikatakan Full and Down bahwa sebuah kapal disebut Full jika seluruh ruangan palka terisi penuh dengan muatan, disebut Down jika kapal dimuati hingga mencapai sarat maksimum yang diizinkan (Deep Load Line).

  • Jika kapal dimuat barang-barang yang ringan (SF besar), maka akan terjadi kapal Full tetapi tidak Down.
  • Jika kapal dimuat barang-barang berat (SF kecil), maka akan terjadi kapal Down tetapi tidak Full.

Contoh 2

Cargo space = 400.000 cft, Cargo DWT = 10.000 ton. Akan dimuati muatan (A) SF = 10 cft/ton, dan muatan (B) SF = 50 cft/ton hingga mencapai kondisi Full and Down.

Cara Jawab:

Cara 1:

Dicari dahulu berat/ton muatan yang SF-nya besar (muatan ringan) dengan memakai rumus Taylor.

Ton B = (V – (T × SF.A)) / (SF.B – SF.A)            dimana: V = Cargo space T = Cargo DWT

Ton B = (400.000 – (10.000 × 10)) / (50 – 10)

Ton B = 300.000 / 40 = 7.500 ton

Ton A = 10.000 – 7.500 = 2.500 ton

Cara 2:

X + Y = 10.000 [x 10] ; 10x + 10y = 100000

10 X + 50 Y = 400.000 [x1] ; 10x + 50y = 400000

Hasil pengurangannya: 

40 y = 300000

Y = 300000 /40 = 7.500 ton

Hasil:

Y = 7.500 ton

X = 2.500 ton

Perhitungan Full and Down dengan Satuan Meter Kubik (Cbm)

Contoh 1:

KM. Pakalong Meranti berada di pelabuhan Tanjung Emas dengan Remaining Space = 2.000 cbm dan sisa DWT = 1.200 ton. Muat plywood SF = 2,5 m³/ton, sebanyak-banyaknya dengan broken stowage rata-rata 10%. Kemudian mengisi air tawar sebanyak = 200 ton. Pemakaian air tawar dan bahan bakar selama di pelabuhan diabaikan.

Hitung:

a. Berapa ton muatan plywood yang dapat dimuat?

b. Apakah kapal mencapai full and down? Jelaskan!

Cara Jawab

Sisa DWT = 1.200 ton

Muatan air = 200 ton

Cargo DWT = 1.000 ton

Remaining Space = 2.000 cbm

BS 10% = 200 cbm

Effective = 1.800 cbm dapat di muat

Misalnya

(1) Jika dimuat 1.000 ton plywood → ruang diperlukan

1000 × 2,5 = 2500 cbm (ruangan tidak cukup)

(2) Jika effective space 1.800 cbm diisi plywood → berat plywood = 1.800 ÷ 2,5 = 720 ton

Berarti:

a. Muatan plywood = 720 ton

b. Kapal mencapai Full tetapi tidak Down

Contoh 2: 

MV. Pilox memeiliki remaining space = 10000 cbm dan mempunyai sisa DWT = 5.000 ton, akan memuat 2 jenis muatan hingga mencapai kondisi full and down. Muatan A SF=0,5 m3/ton dan muatan B SF = 2,5 m3/ton, serta dengan perhitungan bahwa broken stowage rata-rata = 10%, pemakaian air tawar dan bahan bakar selama dipelabuhan dibatalkan. Hitung berat masing-masing muatan

Cara Jawab:

Remaining space = 10.000 cbm

BS 10% = 1.000 cbm

Effective = 9.000 cbm

Muatan A: SF = 0,5 m³/ton

Muatan B: SF = 2,5 m³/ton

Jika berat muatan A = x ton, maka volume ruangan yang akan diperlukan = x ton x SF = Y ton x 0,5 = 0,5 X cbm

Jika berat muatan B=Y ton, maka volume ruangan yang diperlukan =Y ton x SF = Y ton x 2,5 = 2,5 y cbm

DOWN: X + Y = 5.000 ton [x1] X+Y = 5000

FULL: 0,5 X + 2,5 Y = 9.000 cbm [X2] X + Y = 18.000

Maka hasil pengurangannya:

4Y=13.000

Y=13.000/4 = 3250 TON

Maka X = 5000-3250 = 1,750 ton

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Penjelasan Tentang Full and Down Penanganan Muatan Kapal"