Teknik Melindungi Muatan Di Kapal Agar Tidak Rusak
Melindungi muatan (to protect the cargo) adalah kewajiban pihak kapal untuk menjamin keamanan dan keselamatan seluruh barang yang diangkut, mulai dari saat muatan dimuat di pelabuhan asal hingga tiba dengan selamat di pelabuhan tujuan.
Tanggung jawab tersebut berlaku sesuai dengan prinsip “from sling to sling” atau “from tackle to tackle”, yang berarti pihak kapal bertanggung jawab penuh sejak barang diangkat untuk dimuat hingga selesai diturunkan di tempat tujuan.
Untuk menjaga agar muatan tetap dalam kondisi baik selama pelayaran, awak kapal harus memahami secara menyeluruh karakteristik dan sifat masing-masing jenis barang yang dibawa. Pengetahuan ini sangat penting karena kerusakan muatan dapat terjadi akibat berbagai faktor selama berada di dalam palka kapal.
Penyebab Kerusakan Muatan
Selama proses pengangkutan, muatan memiliki risiko mengalami kerusakan akibat berbagai faktor teknis maupun lingkungan. Agar keselamatan muatan tetap terjaga hingga sampai ke pelabuhan tujuan, penting untuk memahami penyebab-penyebab umum yang sering terjadi berikut ini.
1. Keringat Kapal (Ship’s Sweat)
Kondisi ini muncul karena adanya perbedaan suhu antara udara di dalam ruang muat dengan udara luar kapal. Ketika uap air di ruang muat mengembun dan menempel pada permukaan baja kapal, tetesan air tersebut dapat menetes ke muatan dan menyebabkan kerusakan, terutama pada barang-barang yang tidak tahan lembap seperti hasil pertanian, tepung, atau tekstil.
Untuk mencegah terjadinya keringat kapal, sistem ventilasi ruang muat perlu diatur secara cermat agar suhu dan kelembapan tetap seimbang. Penggunaan alat pengukur suhu (thermometer) dan kelembapan (hygrometer) juga penting untuk memantau kondisi lingkungan di dalam palka. Selain itu, menyesuaikan waktu buka-tutup ventilasi saat kapal berpindah dari daerah dingin ke panas atau sebaliknya, hal ini bertujuan untuk menjaga stabilitas suhu.
2. Keringat Muatan (Cargo Sweat)
Berbeda dengan keringat kapal, keringat muatan timbul akibat pengaruh langsung dari barang itu sendiri atau dari muatan lain yang berada di sekitarnya. Barang yang mengandung kadar air tinggi dapat melepaskan uap air saat suhu ruang berubah, yang kemudian dapat mengembun di permukaan muatan lain. Hal ini berpotensi menimbulkan jamur, korosi, atau perubahan kualitas produk.
Cara efektif untuk menghindari keringat muatan adalah dengan melakukan segregasi atau pemisahan antara muatan yang memiliki sifat higroskopis dengan barang kering. Penggunaan bahan penyerap kelembapan seperti silica gel atau desiccant sangat membantu dalam menjaga kestabilan kelembapan di ruang muat.
3. Perembesan dan Kebocoran Air Laut
Air laut yang merembes ke dalam palka, baik melalui celah lambung kapal maupun sistem pipa yang bocor, dapat menyebabkan kerusakan serius pada muatan. Barang yang tidak dikemas dengan baik atau tidak dilindungi lapisan kedap air sangat rentan terhadap kondisi ini.
Pencegahan kebocoran dapat dilakukan dengan melakukan inspeksi rutin terhadap sistem kedap air kapal, seperti gasket, hatch cover, dan pipa. Setiap indikasi korosi atau retakan pada lambung harus segera diperbaiki sebelum kapal berlayar.
Selain itu, pengemasan muatan menggunakan bahan tahan air seperti plastik tebal atau peti kayu berlapis dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan terhadap paparan air laut.
4. Pemanasan Sendiri (Spontaneous Heating)
Beberapa jenis muatan seperti biji-bijian, batubara, atau bahan organik tertentu dapat mengalami proses oksidasi alami yang menghasilkan panas. Jika suhu di dalam palka meningkat tanpa sirkulasi udara yang memadai, dapat terjadi pembusukan bahkan kebakaran.
Penting untuk mengatur ventilasi dan pemantauan suhu secara rutin selama pelayaran. Kapal yang membawa muatan jenis ini biasanya dilengkapi dengan sensor suhu otomatis yang akan memberikan peringatan bila terjadi peningkatan suhu abnormal.
5. Gesekan dengan Dinding Kapal atau Muatan Lain
Pergerakan kapal akibat ombak dan angin dapat membuat muatan bergeser dan saling bergesekan. Tanpa sistem penahan (lashing) yang kuat, gesekan ini bisa menimbulkan lecet, pecah, atau deformasi pada kemasan maupun isi barang.
Untuk mencegah hal ini, setiap muatan harus diikat dengan sistem lashing yang sesuai dengan berat dan jenis barangnya. Penggunaan bantalan atau pelapis antara muatan dengan dinding palka juga sangat membantu meredam tekanan akibat pergerakan kapal.
6. Penanganan yang Kurang Hati-Hati
Proses bongkar muat yang dilakukan dengan tergesa-gesa atau tanpa memperhatikan prosedur keselamatan sering menjadi penyebab kerusakan. Alat angkut seperti crane atau forklift yang tidak dioperasikan dengan benar dapat menjatuhkan atau menekan muatan secara berlebihan.
Untuk mencegah kerusakan akibat human error, operator bongkar muat perlu dilatih dan diawasi agar memahami karakteristik setiap jenis muatan. Barang rapuh atau sensitif sebaiknya diberi tanda khusus dan diperlakukan secara manual dengan peralatan pelindung tambahan.
7. Pencurian (Pilferage)
Tindakan pencurian juga merupakan risiko nyata dalam pengangkutan transportasi laut. Barang bernilai tinggi atau berukuran kecil sering menjadi sasaran selama proses bongkar muat di pelabuhan. Pengawasan untuk menjaga keamanan yang baik sangat dibutuhkan untuk mencegah kerugian akibat hal ini.
Cara untu mencegah pencurian (pillage) antara lain :
- Disimpan di tempat khusus/special locker yang bisa ditutup rapat.
- Penyusunan muatan mudah dicuri dibagian dalam kemudian diblok dengan muatan yang sukar dicuri. Disekeliling muatan dibangun dinding darurat dari penerapan.
- Pemuatan / pembongkaran dilakukan pada siang hari atau kalau terpaksa malam hari, palka dilengkapi dengan penerangan yang cukup disertai pengawasan yang ketat.
- Lubang-lubang ventilasi diberi ram-ram dari kawat.
- Selesai muat/bongkar palka segera ditutup rapat.
- Pemakaian sistem containerization untuk muatan yang mudah dicuri.
Teknik Melindungi Muatan Agar Tidak Rusak
1. Penerapan (Dunnage)
Penerapan (dunnage) dapat digolongkan atas 2 (dua) macam yaitu Penerapan terlepas (loose dunnage) seperti papan-papan, balok-balok, kertas, tikar, terpal, sasak, plastik dll. dan lainnya adalah penerapan tetap (permanent dunnage) adalah penerapan yang memang dipasang secara tetap di kapal.
Contoh penerapan yang dipasang secara tetap (Permanent dunnage) adalah sebagai berikut:
• Cargo batten/sweat batten (bilah keringat) yaitu penerapan tetap yang dipasang di samping-samping di dalam palka.
• Spar ceilling atau floor ceilling adalah penerapan tetap yang dipasang di atas tank top atau dasar palka; juga yang dipasang di loteng palka.
• Limber boards yaitu penerapan tetap yang dipasang di atas got-got palka.
• Wooden sheathing yaitu penerapan tetap yang dipasang untuk menutupi pipa-pipa atau untuk dinding yang berbatasan langsung dengan kamar mesin, sebagai penutup tunnel dll.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh penerapan (dunnage) adalah Bahan harus kuat dan kering benar, Jumlah harus mencukupi, yang rusak diganti/diperbaiki, Bukan dari bahan yang higroskopis atau dari bahan yang karena sifatnya dapat merusak muatan, Penerapan harus benar-benar memenuhi fungsinya serta Biaya pengangkutan kecil dan harganya murah.
Jumlah penerapan di kapal sangat bergantung dari tipe dan jenis kapal, Adanya double bottom atau tidak serta Keadaan udara.
Fungsi Dunnage
Fungsi Penggunaan Penerapan (Dunnage) adalah sebagai berikut :
- Mencegah kerusakan muatan sebagai akibat persentuhan langsung dengan dasar kapal atau dinding kapal, free moisture, condensation, crushing, chafage dan spontaneous heating.
- Pengelompokan muatan/partai-partai muatan khususnya sehubungan dengan berbagai pelabuhan tujuan.
- Meninggikan titik berat muatan jika memuat muatan berat seperti rel-rel, plat-plat, besi-besi beton dan lain-lain.
- Penerapan dapat berfungsi sebagai ventilasi
- Pembongkaran cepat dan sistematis
- Mencegah terjadinya pencurian (pilferage)
Contohnya yang paling gampang tentang pemakaian double dunnage, misalnya pada pemuatan kopi, di dasar dipakai double dunnage. Pemakaian double dunnage bergantung dari sistem pembuangan kapal itu (got-got).
Adanya kondensasi ini disebabkan oleh uap air di dalam palka tersebut yang menjadi jenuh. Untuk mencegahnya dipakai ventilasi/peranginan agar uap air tersebut tidak menjadi jenuh. Ventilasi ini dibuat sedemikian rupa sehingga dapat sekaligus berfungsi sebagai dunnage.
Misalnya ventilasi koker atau rice vent atau venesian ventilator. Gunanya ventilasi disini ialah untuk mengisap uap air di dalam palka agar tidak menjadi jenuh. Lobang ventilasi sedemikian rupa sehingga muatan tidak masuk ke dalamnya dan menyumbat ventilasi.
Istilah-istilah dalam Dunnage
Free Moisture adalah basahnya muatan yang disebabkan keringat muatan, keringat kapal atau oleh air lainnya yang berasal dari luar seperti meluapnya got-got, bocornya muatan basah dan lain sebagainya.
Untuk mencegah terjadinya free moisture maka sebaiknya di bagian dasar atau alas, diberi double dunnage, lalu di atasnya diberi tikar, di samping-samping diberi vertikal dunnage (penerapan tegak) serta di atas muatan diberi tikar atau terpal. Pemberian tikar di atas double dunnage dimaksud agar bila muatan bocor, isinya tertampung di tikar.
Crushing yaitu Kerusakan muatan oleh muatan di atasnya. Untuk ini maka digunakan dunnage floor yang berfungsi agar tekanan dari muatan di atasnya merata. Selain itu permukaan muatanpun menjadi rata. Untuk itu biasanya dipakai dunnage papan atau plywood.
Chafage yaitu Kerusakan muatan karena bergeser atau bergeraknya dari tempatnya. Selain muatan itu sendiri yang rusak, juga dapat merusak muatan lainnya. Untuk itu dipakai vertical dunnage.
Spontaneous Heating yaitu Pemasangan yang spontanous/se-konnyong-konnyong pada jenis muatan yang sifatnya mudah menangas atau mudah terbakar sendiri seperti batubara, kopra dll. Untuk itu diberi ventilasi.
Side/bilge yaitu Pada bagian bawah (lapisan pertama) dunnage dipasang melintang tegak lurus atau miring terhadap dinding kapal. Lapisan atas (II) membujur kepal.
Drain well yaitu Lapisan bawah (lapisan I) dipasang membujur kapal dan lapisan II dipasang melintang.
2. Pemberian Peranginan (Ventilation)
Peranginan merupakan bagian yang sangat penting dalam pengaturan muatan, khususnya pada kapal barang dimana bila lalai atau kurangnya perhatian terhadap pemberian peranginan (ventilasi) kedalam ruang muat/palka, maka akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada muatan.
Hal-hal yang dapat timbul akibat kurangnya pemberian peranginan atau ventilasi kedalam palka antara lain:
- Terjadinya kenaikan suhu pada udara dalam palka.
- Udara dalam palka akan berbau
- Terjadinya kondensasi
- Terjadinya pemanasan muatan
- Menumpuknya gas-gas beracun dalam palka.
Pemberian peranginan dalam palka, sangatlah bergantung dari jenis muatan yang berada dalam palka itu sendiri. Perlu juga diketahui bahwa tidak semua jenis muatan memerlukan peranginan, contohnya pada pemuatan batu bara curah. Pada pemuatan batu bara curah, tidak diperbolehkan melakukan peranginan dalam muatan tersebut, sebab akan menyebabkan terjadinya kebakaran ataupun bahaya ledakan.
Tujuan pemberian ventilasi kedalam palka adalah sebagai berikut:
- Mengontrol suhu udara dalam palka
- Mengontrol kelembapan udara dalam palka.
- Mencegah terjadinya kondensasi didalam palka.
- Memasukkan udara bersih dan segar kedalam palka.
- Mengeluarkan udara yang berbau dari dalam palka.
- Mengeluarkan gas-gas beracun dari dalam palka.
Sistem ventilasi secara umum ada 2 (dua), yaitu sistem ventilasi alam dan sistem ventilasi Mekanis
Sistem Ventilasi Alam
Sistem ventilasi ala mini adalah pemberian peranginan kedalam palka yang paling sederhana. Sistem ventilasi ini cukup baik untuk dapat memelihara keadaan muatan dan dapat menghindari kerusakan muatan apabila dilaksanakan dengan tepat.
Pemberian peranginan kedalam palka secara alamiah, menggunakan tabung yang dipasang di geladak sebagai bumbung ventilasi yang dihubungkan dengan tabung sampai ke dasar palka. Setiap palka memiliki paling sedikit 2 (dua) buah bumbung ventilasinya diletakkan secara diagonal.
Bumbung ventilasi ini konstruksinya berbentuk corong dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat diputar untuk mengarahkannya menghadap arah angin ataupun membelakangi arah angin.
Bumbung ventilasi ini dilengkapi dengan penutup dan diberi kawat kasa sebagai pelindung agar kotoran tidak masuk kedalam palka sekaligus sebagai pelindung anti api.
Untuk memberikan peranginan kedalam palka secara maksimal, maka bumbung ventilasi yang berada diatas angin diarahkan membelakangi arah angin dan bumbung ventilasi yang berada di bawah angin menghadap arah datangnya angin dan dengan demikian, maka palka akan memperoleh sirkulasi secara tetap.
Sistem Ventilasi Mekanis
Sistem ventilasi mekanis ini adalah pemberian peranginan kedalam palka melalui tabung-tabungnya yang diperlengkapi dengan kipas yang digerakkan secara mekanis, sehingga disebut system ventilasi mekanis.
Pada system ventilasi mekanis ini, konstruksi tabungnya yang berada diatas geladak berbentuk bulat yang dilengkapi dengan tudung, sedangkan yang berada dalam palka seperti pada system ventilasi alam. Tabung ventilasi yang terdapat diatas geladak juga paling sedikit dua buah yang dilengkapi dengan kipas, dimana salah satu tabung tersebut dilengkapi dengan kipas yang dapat menghisap udara dari dalam palka dan yang lainnya memasukkan udara dari dalam palka.
3. Pemisahan Muatan (Segregation Cargoes)
Pemisahan muatan berdasarkan golongan muatan merupakan salah satu cara untuk melindungi muatan. Pemisahan yang baik haruslah dilihat dari bentuk, jenis dan sifatnya yang berbeda agar muatan tidak saling merusak satu sama lainnya, misalnya muatan yang basah tidak boleh dicampur dengan muatan kering.
Pemisahan muatan berdasarkan jenis atau golongannya merupakan salah satu langkah penting dalam menjaga keamanan dan keutuhan barang selama pelayaran. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat reaksi kimia, perbedaan kelembapan, bau, atau sifat fisik antarbarang.
Misalnya muatan yang bersifat basah tidak boleh ditempatkan berdekatan dengan muatan kering, karena uap air dari muatan basah dapat menyebabkan muatan kering menjadi lembap, berjamur, atau rusak. Begitu pula dengan barang-barang yang mengeluarkan bau tajam seperti pupuk, ikan asin, atau bahan kimia, harus dijauhkan dari bahan makanan atau tekstil yang mudah menyerap bau.
Pemisahan muatan dilakukan berdasarkan sifat fisik, kimia, dan risiko interaksi antarbarang. Muatan cair, padat, mudah terbakar, berbahaya (dangerous goods), serta bahan makanan semuanya harus ditempatkan di ruang terpisah atau diberi sekat pelindung.
Penataan juga mempertimbangkan arah ventilasi udara, kelembapan, serta suhu di dalam palka agar setiap kelompok muatan tetap berada dalam kondisi idealnya. Selain itu, kapal wajib mengikuti pedoman internasional seperti International Maritime Dangerous Goods (IMDG) Code yang mengatur tata cara penyimpanan dan pemisahan barang berbahaya agar tidak menimbulkan kecelakaan atau kontaminasi silang.
Dengan pengelompokan yang sistematis, barang dapat dikeluarkan sesuai urutan pelabuhan atau prioritas tanpa perlu memindahkan muatan lain. Hal ini menghemat waktu, mengurangi risiko kerusakan akibat pemindahan berulang, dan mempercepat penyelesaian dokumen pengiriman.
4. Pengikatan dan Pengamanan (Lashing and Securing)
Pada pengaturan muatan yang berupa kemasan, kadang-kadang dalam pengaturannya tidak dapat dilakukan sepadat mungkin sehubungan dengan bentuk kemasannya yang berbeda, sehingga oleh karenanya memerlukan pengikatan/lashing untuk pengamanannya dari pergeseran.
Pengikatan (Lashing) hendaknya tidak terlupakan, sebab kemungkinan kerusakan muatan terjadi akibat bergeraknya muatan dari tempatnya yang disebabkan oleh olengan (rolling) ataupun anggukan (pitching) yang dialami kapal sehubungan dengan kondisi laut selama dalam pelayaran.
Untuk menjadikan agar supaya muatan tidak bergerak, maka perlu mendapat pengikatan (lashing) supaya muatan yang telah dipadatkan tersebut tetap kokoh pada tempatnya.
Peralatan atau bahan-bahan yang dapat atau biasanya digunakan sebagai alat pengikat (Lashing) muatan antara lain:
- Tali nilon
- Tali kawat
- Rantai
- Turn buckle
- Wire clip
- Snatch block
- Roller Shackle
- Segel
- Slip hook
- Jaring-jaring
- Papan-papan
- Balok-balok
Pemisahan yang baik haruslah dilihat dari bentuk, jenis dan sifatnya yang berbeda agar muatan tidak saling merusak satu sama lainnya, misalnya muatan yang basah tidak boleh dicampur dengan muatan kering.

Post a Comment for "Teknik Melindungi Muatan Di Kapal Agar Tidak Rusak"
Sobat pelaut yang ingin bertanya atau berbagi pengalaman silahkan tinggalkan komentar di bawah ini.
Post a Comment