Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cara Lashing Container di Kapal dan Alat Yang Digunakan

Saat ini, diperkirakan sekitar 52% kegiatan perdagangan melalui laut menggunakan sistem kontainer. Angka ini menunjukkan bahwa kontainer menjadi metode transportasi yang paling dominan dibandingkan jenis lainnya. Hal ini karena dianggap lebih cepat, efisien, dan mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dengan jangkauan lintas negara.

lashing container
Proses melakukan lashing di kapal container guna untuk keselamatan muatan selama kapal berlayar

Seiring perkembangan teknologi, kapal kontainer modern kini mampu membawa lebih dari 15.000 kontainer dalam satu pelayaran. Bahkan, dalam praktiknya, terdapat tumpukan kontainer setinggi 8 tingkat atau lebih yang diikat bersama dalam barisan panjang. Namun, semakin besar kapasitas muatan, semakin tinggi pula resiko yang harus dihadapi, terutama dalam aspek container lashing atau pengikatan kontainer di atas kapal.

Apa Itu Container Lashing

Container lashing adalah proses pengikatan dan pengamanan kontainer di atas kapal menggunakan alat bantu seperti lashing rods, turnbuckle, dan twist-lock. Tujuan utama dari lashing adalah untuk memastikan kontainer tetap stabil di tempatnya, baik di atas struktur kapal maupun di atas kontainer lainnya.

Pengikatan ini sangat penting untuk mencegah kontainer berpindah posisi atau bahkan jatuh ke laut akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, maupun angin kencang. Dengan sistem lashing yang tepat, keamanan kapal, muatan, dan awak kapal dapat lebih terjamin.

Container lashing salah satu pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi di sektor penanganan muatan di laut. Kesalahan kecil dalam prosedur ini dapat menyebabkan pergeseran kontainer, kerusakan barang, bahkan kecelakaan serius yang membahayakan nyawa pelaut

Oleh karena itu, pemahaman mengenai container lashing yang benar serta penerapan prosedur keselamatan yang harus diperketat, beberapa potensi bahaya antara lain:

  • Kecelakaan kerja akibat penggunaan peralatan yang berat dan panjang.
  • Resiko jatuh dari ketinggian ketika melakukan lashing di bagian atas tumpukan kontainer.
  • Cedera otot dan tulang akibat aktivitas fisik berat seperti mengangkat batang lashing.
  • Tersandung dan terpeleset karena kondisi dek kapal yang licin atau tidak rata.
  • Bahaya listrik khususnya saat menangani kontainer berpendingin (reefer container) yang membutuhkan sambungan daya.

Siapa yang Bertanggung Jawab Pada Container Lashing

Di pelabuhan, pekerjaan lashing dan de-lashing biasanya ditangani oleh stevedores atau buruh pelabuhan. Namun, sebagian besar operasi ini juga dilakukan oleh awak kapal.

Dalam dunia pelayaran, tanggung jawab mengenai lashing kontainer di kapal dibagi ke beberapa pihak. Secara teknis, pekerjaan memasang dan melepas pengaman kontainer biasanya dilakukan oleh stevedores atau pekerja bongkar muat di pelabuhan. Mereka bertugas memastikan setiap kontainer terikat dengan benar sesuai prosedur standar. 

Namun, meskipun pelaksanaan lashing dilakukan oleh pekerja pelabuhan, tanggung jawab akhir atas keamanan kontainer tetap tanggung jawab nakhoda kapal, yang dalam praktiknya didelegasikan pada tugas Chief Officer untuk memastikan semua pengikatan mengikuti aturan yang tercantum dalam Cargo Securing Manual (CSM).

Di sisi lain, ada juga tanggung jawab dari sisi hukum dan kontrak. Berdasarkan aturan internasional seperti Hague-Visby Rules, pihak pengangkut atau carrier wajib memastikan barang dimuat, ditangani, dan diamankan dengan baik. 

Artinya, jika terjadi kelalaian dalam proses lashing yang menyebabkan kerusakan atau kerugian, carrier bisa dimintai pertanggungjawaban, kecuali kerusakan itu muncul karena faktor navigasi atau manajemen kapal yang tidak berkaitan langsung dengan pengikatan kontainer.

Dengan pembagian seperti itu, dapat disimpulkan bahwa stevedores bertanggung jawab secara operasional, nakhoda kapal melalui Chief Officer bertanggung jawab atas keselamatan di kapal, sementara carrier bertanggung jawab secara hukum dan kontraktual.

Sebelum kapal tiba di pelabuhan, kru kapal biasanya melakukan de-lashing terlebih dahulu. Untuk mempercepat proses bongkar muat setelah kapal sandar. Selain itu, awak kapal juga memiliki tanggung jawab rutin untuk memeriksa kondisi pengikatan kontainer agar tetap aman sepanjang pelayaran.

Teknik Melakukan Lashing Container

Ada beberapa metode dan teknik lashing yang biasa digunakan tergantung pada jenis muatan dan transportasi, berikut beberapa di antaranya:

1. Block and Brace

Metode block and brace adalah teknik pengamanan muatan dengan menggunakan balok kayu, papan, atau logam yang dipasang di sekitar kargo untuk mencegah pergerakan. Biasanya digunakan untuk muatan berat seperti mesin industri, peralatan konstruksi, hingga kendaraan.

Metode ini memiliki sejumlah kelebihan, salah satunya adalah sangat efektif untuk barang berukuran besar dan berat karena mampu menahan guncangan maupun getaran selama perjalanan. 

Namun, teknik ini juga memiliki kekurangan, yaitu membutuhkan ruang yang cukup serta material tambahan seperti kayu atau logam, sehingga biaya yang dikeluarkan bisa lebih tinggi. Secara umum, metode ini banyak diaplikasikan untuk pengiriman mesin pabrik, generator, atau kendaraan yang tidak dikemas dalam peti.

2. Strapping (Pengikatan)

Strapping dilakukan dengan mengikat kargo menggunakan tali khusus, pita baja, atau polyester strap yang dikencangkan pada dinding kontainer. Metode ini cocok untuk muatan ringan hingga menengah seperti karton, palet, atau drum.

Metode ini memiliki kelebihan karena fleksibel, cepat, dan tidak membutuhkan banyak ruang tambahan dalam penerapannya. Meski begitu, terdapat kekurangan yaitu tidak terlalu efektif untuk barang dengan bobot sangat besar atau muatan yang mudah bergeser jika terkena guncangan kuat. 

Secara umum, metode ini sering digunakan untuk produk konsumen, bahan kimia dalam drum, atau berbagai barang manufaktur yang dikemas dalam palet.

3. Lashing Chains

Untuk kargo berat, besar, atau berbentuk tidak beraturan, metode lashing dengan rantai baja adalah pilihan yang paling aman. Rantai ini dikencangkan menggunakan tensioner agar memberikan tekanan optimal dan mencegah pergerakan sekecil apapun.

Metode ini memiliki kelebihan karena sangat kuat dan tahan lama, bahkan mampu menahan muatan dengan berat hingga berton-ton. Namun, kekurangannya adalah biaya yang lebih mahal dibanding metode lain serta memerlukan tenaga ahli untuk memastikan pemasangan dilakukan sesuai standar keselamatan. 

Umumnya, metode ini digunakan dalam pengangkutan alat berat, mesin industri berukuran besar, serta material konstruksi seperti baja gulungan.

4. Netting (Jaring)

Netting adalah metode pengamanan kargo menggunakan jaring kuat yang menutupi atau membungkus muatan. Cara ini efektif untuk barang dengan bentuk tidak beraturan atau muatan kecil dalam jumlah banyak.

Metode ini memiliki kelebihan karena mudah digunakan, fleksibel, dan mampu menahan barang-barang kecil agar tidak jatuh atau bergeser selama proses transportasi. Meski demikian, teknik ini tidak cocok untuk barang yang sangat berat atau berukuran besar. 

Metode ini banyak diterapkan pada pengiriman produk pertanian, barang pecah belah, maupun kargo ringan dengan volume tinggi.

Alat Lashing Container di Kapal

alat lahsing container
Contoh alat yang digunakan sebagai peralatan lashing container di kapal

Setiap pekerjaan lashing membutuhkan alat khusus yang berfungsi untuk mengikat, menahan, atau menstabilkan muatan di dalam kontainer. Pemilihan alat harus disesuaikan dengan jenis barang, berat, serta moda transportasi yang digunakan. 

Berikut penjelasan dari beberapa alat utama dalam container lashing:

1. Lashing Belt (Sabuk Pengikat)

Lashing belt adalah sabuk pengikat yang terbuat dari serat sintetis berkekuatan tinggi, seperti polyester. Alat ini sangat populer karena sifatnya yang fleksibel, ringan, dan mampu menahan beban sedang hingga berat. 

Sabuk lashing biasanya digunakan untuk mengikat barang-barang yang ditempatkan di atas palet, drum, atau mesin agar tidak bergeser selama perjalanan. 

Selain itu, sabuk ini dilengkapi dengan ratchet (alat pengencang) sehingga ketegangannya bisa diatur sesuai kebutuhan. Keunggulannya adalah tidak mudah rusak akibat perubahan cuaca atau kelembaban, sehingga cocok untuk pengiriman darat maupun laut.

2. Turnbuckle

Turnbuckle merupakan alat pengencang yang digunakan untuk menyesuaikan ketegangan pada tali atau rantai. Alat ini memiliki ulir di kedua ujungnya, sehingga ketika diputar, panjang dan ketegangan dapat diatur dengan presisi. 

Turnbuckle berfungsi pada rantai atau tali pengikat agar memiliki tekanan yang cukup kuat agar muatan tidak bergerak. Penggunaan turnbuckle biasanya dikombinasikan dengan lashing chain untuk barang-barang berukuran besar dan berat, seperti mesin industri atau material konstruksi.

3. D-Ring dan Hook

D-Ring dan hook berfungsi sebagai titik pengait yang dipasang pada dinding, lantai, atau bagian dalam kontainer. Alat ini menjadi media untuk menghubungkan sabuk, tali, atau rantai dengan muatan. 

D-Ring berbentuk cincin berbahan logam yang sangat kuat, sedangkan hook berbentuk kait yang memudahkan pemasangan dan pelepasan lashing. 

Keberadaan D-Ring dan hook akan menentukan titik tumpu dan distribusi beban saat muatan diikat. Jika penempatannya tepat, risiko muatan bergeser atau terlepas dapat diminimalkan secara signifikan.

4. Chain Binder

Chain binder adalah alat khusus untuk mengencangkan rantai baja dalam metode lashing. Alat ini biasanya digunakan bersamaan dengan lashing chain pada muatan yang sangat berat, misalnya kendaraan besar, baja gulungan, atau mesin industri. 

Chain binder bekerja dengan memberikan tekanan tambahan pada rantai sehingga posisinya menjadi sangat kencang dan stabil. Ada dua jenis chain binder yang umum digunakan yaitu lever binder (menggunakan tuas) dan ratchet binder (menggunakan sistem gigi). 

Ratchet binder lebih aman digunakan karena memungkinkan pengencangan bertahap tanpa risiko hentakan balik.

5. Dunnage Bag

Dunnage bag adalah kantong udara berukuran besar yang terbuat dari bahan plastik berlapis kertas kraft atau material khusus yang tahan tekanan. 

Alat ini diletakkan di antara celah-celah muatan di dalam kontainer untuk mengisi ruang kosong dan mencegah pergeseran akibat guncangan. Dunnage bag sangat efektif untuk kargo ringan hingga menengah yang tidak sepenuhnya memenuhi ruang kontainer. 

Dengan adanya dunnage bag, barang tidak akan saling bertabrakan atau rusak selama proses transportasi. Pemasangan dunnage bag cukup mudah karena hanya perlu dipompa dengan udara sesuai kapasitas ruang yang tersedia.

Jenis-Jenis Lashing Pada Container

Pemilihan teknik yang tepat sangat berpengaruh pada keamanan muatan selama proses transportasi, terutama dalam menghadapi guncangan, getaran, atau perubahan arah kendaraan dan kapal. Berikut beberapa jenis lashing yang penting diketahui dalam container lashing antara lain:

1. Cross Lashing

Cross lashing adalah teknik pengikatan di mana dua sabuk atau rantai disilangkan membentuk pola huruf “X” di atas atau di depan muatan.

Metode ini menciptakan stabilitas maksimal terhadap pergeseran lateral (samping), sehingga muatan tetap berada di posisi meskipun terkena guncangan kuat dari arah kiri maupun kanan. 

Cross lashing banyak digunakan pada barang-barang yang cenderung bergeser, seperti drum, mesin, atau palet dengan muatan tinggi. 

Selain memberikan daya tahan yang kuat, pola silang ini juga membantu mendistribusikan tekanan secara merata pada muatan.

2. Vertical Lashing

Vertical lashing adalah teknik pengikatan dengan menarik sabuk atau rantai ke arah bawah, mengikat muatan langsung ke lantai kontainer. Cara ini sangat efektif untuk barang dengan pusat gravitasi tinggi, misalnya mesin atau peralatan industri yang memiliki risiko mudah terguling. 

Dengan ikatan vertikal, muatan tidak hanya tertahan dari sisi samping tetapi juga ditahan agar tidak terangkat akibat guncangan vertikal atau saat kontainer mengalami perbedaan tekanan. 

Vertical lashing sering dipadukan dengan metode lain, seperti cross lashing, untuk memberikan perlindungan ekstra.

3. Direct Lashing

Pada direct lashing, sabuk atau rantai diikat langsung dari muatan ke titik jangkar (anchoring point) yang terdapat di lantai atau dinding kontainer. 

Tidak ada pola silang dalam metode ini, sehingga teknik ini paling cocok untuk muatan dengan bentuk simetris dan stabil, seperti peti kayu, baja gulungan, atau kontainer dalam kontainer.

Keunggulan direct lashing adalah lebih sederhana, cepat, dan tetap aman asalkan titik ikat berada di posisi yang tepat. Namun, untuk barang dengan bentuk tidak beraturan, metode ini biasanya kurang efektif tanpa tambahan teknik lain.

4. Diagonal Lashing

Diagonal lashing adalah teknik pengikatan dengan menarik sabuk atau rantai dari sisi atas muatan menuju lantai kontainer secara miring (diagonal). Metode ini memberikan kestabilan dari berbagai arah, baik depan, belakang, maupun samping. 

Dengan pola diagonal, gaya yang diterima muatan akan lebih terdistribusi, sehingga cocok digunakan untuk barang yang berisiko bergeser saat kendaraan atau kapal melakukan manuver tajam. Teknik ini biasanya dipakai untuk muatan besar dan berat, misalnya kendaraan, mesin industri, atau material konstruksi.

Prosedur Keselamatan pada Lashing Container

Untuk mengurangi resiko, berikut adalah prosedur dalam melakukan lashing dan de-lashing secara aman antara lain:

1. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD), Selalu gunakan rompi reflektif, sepatu baja, helm keselamatan, sarung tangan, dan perlengkapan pelindung lainnya sesuai standar keselamatan kerja.

2. Persiapan Fisik, Lakukan peregangan atau pemanasan otot sebelum bekerja, karena lashing merupakan pekerjaan fisik berat. Gunakan sabuk penyangga punggung bila perlu, dan selalu angkat beban dengan lutut, bukan punggung.

3. Perhatikan Lingkungan Kerja dengan cara seperti:

  • Hindari berjalan di bawah muatan gantung seperti gantry atau kontainer yang sedang diangkat.
  • Pastikan area kerja seperti platform, tangga, pagar pengaman, dan catwalk sudah diperiksa sebelum operasi.
  • Tutup semua manhole atau booby hatch saat pekerjaan berlangsung.

4. Penanganan Kontainer Reefer, kontainer berpendingin membutuhkan perhatian khusus. Pastikan koordinasi yang baik dalam proses plug-in dan unplug kabel listrik. Hindari menyentuh kabel daya hingga dipastikan aman.

5. Pencegahan Jatuh dan Cedera dengan cara sebagai berikut:

  • Gunakan safety harness atau alat pelindung jatuh saat bekerja di ketinggian.
  • Jaga jarak aman dengan rekan kerja, minimal tiga lebar kontainer saat melakukan lashing.
  • Selalu bekerja berpasangan ketika menangani batang lashing dan turnbuckle.

6. Penanganan Peralatan Lashing, dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

  • Jangan biarkan batang lashing atau turnbuckle tergeletak sembarangan.
  • Kencangkan turnbuckle segera setelah batang terpasang.
  • Laporkan segera jika terdapat peralatan rusak atau struktur kapal yang tidak layak.

Dampak Lashing yang Tidak Mengikuti Prosedur

Proses lashing yang tidak dilakukan sesuai prosedur berisiko besar terhadap keselamatan pelayaran, keamanan muatan, hingga kesehatan para awak kapal. Kesalahan dalam teknik pengikatan bukan hanya berdampak finansial, tetapi juga dapat menimbulkan bencana lingkungan dan psikologis. 

Berikut penjelasan dari dampak-dampak yang mungkin terjadi:

1. Kontainer Jatuh ke Laut dan Kehilangan Muatan

Apabila lashing dilakukan secara tidak tepat, kontainer dapat terlepas dari posisinya dan jatuh ke laut. Hal ini tentu menimbulkan kerugian finansial besar bagi perusahaan karena muatan hilang. Kontainer yang terapung di laut menjadi bahaya navigasi bagi kapal lain, karena bisa memicu tabrakan atau kecelakaan serius. 

Lebih berbahaya lagi, jika isi kontainer adalah bahan kimia atau limbah berbahaya, jatuhnya kontainer bisa mencemari ekosistem laut dan mengancam kehidupan biota serta rantai makanan di laut.

2. Destabilisasi Kapal – Bahaya Terbalik

Pergeseran muatan akibat lashing yang tidak sesuai dapat mengganggu distribusi berat kapal. Ketidakseimbangan ini memperbesar risiko kapal kehilangan stabilitas, terutama dalam kondisi gelombang tinggi atau angin kencang. 

Pada kasus terburuk, kapal bisa terbalik (capsizing) yang tidak hanya menyebabkan kehilangan muatan, tetapi juga mengancam keselamatan seluruh awak kapal. Oleh karena itu, lashing yang benar merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas kapal di tengah laut.

3. Timbulnya Kerusakan Fisik pada Muatan

Muatan yang tidak terikat dengan baik sangat rentan bergeser drastis ketika kapal berbelok, bermanuver, atau diterjang ombak besar. 

Pergeseran tersebut bisa menyebabkan barang pecah, patah, atau bahkan hancur. Kondisi ini bukan hanya merugikan pemilik barang, tetapi juga meningkatkan potensi klaim asuransi serta merusak reputasi perusahaan pelayaran. 

Dengan lashing yang benar, barang tetap aman hingga tiba di tujuan, meskipun perjalanan melalui kondisi cuaca ekstrem.

4. Keruntuhan Deretan Kontainer (Stack Collapse)

Kesalahan lashing pada satu kontainer bisa memicu efek domino yang menyebabkan runtuhnya tumpukan kontainer di sekitarnya. 

Kejadian ini dikenal sebagai stack collapse dan sangat berbahaya, karena selain menghancurkan struktur kontainer, juga bisa membuat muatan jatuh ke laut atau menimpa awak kapal. 

Efek domino ini sangat sulit dihentikan begitu dimulai, sehingga penting untuk memastikan setiap kontainer dipasang dengan teknik lashing sesuai standar internasional.

5. Trauma Psikologis bagi Kru Kapal

Insiden seperti runtuhnya tumpukan kontainer bukan hanya mengancam keselamatan fisik awak kapal, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis mendalam. 

CSSS (Container Ship Safety Support) mencatat bahwa trauma pascakejadian (PTSD) kerap dialami pelaut setelah mengalami situasi berbahaya di laut. Kondisi ini dapat menurunkan fokus, kepercayaan diri, bahkan kemampuan mereka dalam menghadapi pelayaran berikutnya. 

Oleh karena itu, pelatihan lashing yang tepat tidak hanya soal keamanan barang, tetapi juga perlindungan mental awak kapal.

6. Risiko Kebocoran Muatan Berbahaya

Jika kontainer yang membawa muatan berbahaya seperti bahan kimia, gas bertekanan, atau limbah beracun rusak akibat lashing yang buruk, risikonya sangat serius. 

Kebocoran zat berbahaya bisa menyebabkan paparan langsung kepada awak kapal, menimbulkan masalah kesehatan, hingga kebakaran atau ledakan. Selain itu, kontaminasi laut akibat kebocoran ini berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan jangka panjang. 

Karena itu, muatan berbahaya memiliki regulasi lashing khusus yang wajib diikuti sesuai aturan IMDG Code (International Maritime Dangerous Goods Code).

7. Kerusakan Struktur Kapal

Guncangan kuat akibat pergeseran atau tumbukan kontainer bisa merusak struktur fisik kapal, seperti pelat baja, pagar pembatas, atau hatch cover (penutup palka). 

Kerusakan ini mungkin tidak langsung terlihat, namun dapat membahayakan pelayaran berikutnya jika tidak segera diperiksa dan diperbaiki. Perbaikan kapal akibat kerusakan struktural juga membutuhkan biaya tinggi serta waktu yang lama, yang dapat mengganggu jadwal operasional perusahaan pelayaran.

Kegiatan container lashing tidak bisa dianggap sebagai pekerjaan rutin semata. Setiap langkah harus dilakukan dengan penuh perhatian dan disiplin. Keselamatan tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga menjaga kelancaran operasi kapal serta menghindari kerugian finansial akibat kerusakan barang atau kecelakaan.

Terimakasih telah berkunjung ke karyapelaut.com dan semoga artikelnya memberikan pengetahuan dan wawasan baru bagi pembaca.

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Cara Lashing Container di Kapal dan Alat Yang Digunakan"