Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Apa itu EEOI Dalam Industri Pelayaran dan Perkapalan

Seiring bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi di seluruh dunia, IMO semakin memperketat target dan aturan di bidang lingkungan. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah EEOI (penerapan Energy Efficiency Operational Indicator), sebagai cara yang praktis untuk menilai seberapa efisien penggunaan energi di kapal serta menghitung emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan.

eeoi

Ini bukan hanya sebagai alat teknis semata, tetapi juga bagian dari strategi IMO untuk mencapai target pengurangan emisi pada tahun 2050. Dalam hal ini, industri pelayaran internasional menghadapi tantangan besar dalam menjaga kelancaran perdagangan global, sekaligus mengurangi dampak terhadap pemanasan global.

Pengertian EEOI

Energy Efficiency Operational Indicator (EEOI) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur efisiensi energi kapal saat beroperasi. Berbeda dengan aturan sebelumnya yang lebih banyak menekankan pada desain kapal baru. Selain itu, juga berfokus pada peningkatan teknologi kapal yang sudah beroperasi.

EEOI dapat dipahami sebagai perbandingan antara jumlah emisi CO₂ yang dihasilkan dengan jumlah pekerjaan transportasi yang dilakukan kapal. Misalnya, berapa banyak CO₂ yang dilepaskan untuk setiap ton barang yang diangkut sejauh satu mil laut.

Contoh nyata dapat dilihat pada perbandingan kapal bulk carrier 400.000 DWT dengan kapal Capesize 180.000 DWT. Kapal berkapasitas lebih besar tersebut sekitar 50% lebih efisien dalam hal emisi CO₂ per ton barang yang diangkut, menunjukkan pentingnya ukuran, desain, dan teknologi kapal terhadap efisiensi energi.

EEOI diperkenalkan oleh IMO pada tahun 1997 melalui resolusi A.963(23), yang menekankan perlunya langkah-langkah membatasi dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari pelayaran internasional. Dari sini lahirlah metodologi untuk menggambarkan efisiensi GRK kapal dalam bentuk indikator operasional.

Hubungan EEOI dengan SEEMP

Agar lebih memahami penerapannya maka kita perlu memahami secara dalam tentang Ship Energy Efficiency Management Plan (SEEMP)

SEEMP adalah kerangka manajemen yang berfungsi sebagai panduan untuk meningkatkan efisiensi energi kapal dengan cara hemat biaya.

Dalam SEEMP, EEOI berperan sebagai alat utama untuk memantau kinerja efisiensi energi kapal dan armada dalam jangka panjang. Dengan indikator ini, manajer kapal dapat menilai sejauh mana perubahan operasional berdampak pada konsumsi bahan bakar. 

Hasil analisis kemudian digunakan untuk menyusun langkah perbaikan, seperti pembersihan baling-baling lebih rutin, penggunaan baling-baling yang lebih efisien, atau penerapan waste heat recovery system.

Penerapan ini membawa sejumlah dampak positif seperti: 

  1. Dari sisi lingkungan, indikator ini membantu menekan emisi karbon dari kapal, sehingga berkontribusi dalam upaya mitigasi pemanasan global. 
  2. Dari sisi operasional, mendorong pemilik kapal untuk terus melakukan inovasi, baik melalui efisiensi operasional maupun modernisasi teknologi.
  3. Memperkuat daya saing perusahaan pelayaran di pasar global. 
Dampak positif seperti ini akan menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju industri pelayaran yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan. 

Jika diimplementasikan secara konsisten bersama SEEMP, CII, dan kebijakan internasional lainnya, sebagai harapan untuk menjadi fondasi kuat pada target dekarbonisasi maritim pada tahun 2050 yang akan datang.

Rumus Perhitungan EEOI

Menurut IMO, EEOI dihitung dengan rumus:

EEOI=∑(FCi×CFi) / mcargo×D

Keterangan:

  • FCi = jumlah bahan bakar yang dikonsumsi (per jenis bahan bakar i).
  • CFi = faktor konversi untuk mengubah konsumsi bahan bakar menjadi emisi CO₂.
  • mcargo = total muatan yang diangkut (dalam ton).
  • D = jarak yang ditempuh kapal (dalam mil laut).

Rumus ini akan memberikan gambaran berapa banyak CO₂ yang dihasilkan untuk setiap ton barang yang diangkut per mil laut.

Pelayaran telah menjadi tulang punggung perdagangan dunia, menghubungkan pulau-pulau, negara, dan benua. Namun, industri ini juga berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂). Gas ini adalah penyebab utama global warming yang mengancam stabilitas iklim global.

IMO sebelumnya telah menargetkan pengurangan emisi pelayaran hingga 50% pada tahun 2050 dibandingkan dengan level tahun 2008. 

Pada pertemuan Marine Environment Protection Committee (MEPC) ke-76, IMO dinilai belum berhasil menentukan target jangka menengah yang jelas. Meski begitu, kerangka kebijakan jangka panjang terkait konsumsi bahan bakar fosil berhasil disepakati.

Sayangnya, kebijakan jangka pendek dianggap tidak cukup mendorong industri pelayaran menuju pencapaian net-zero. 

Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga regional seperti Uni Eropa mulai mengambil inisiatif dengan menyiapkan regulasi yang lebih ketat, termasuk kemungkinan penerapan pajak karbon.

Untuk memperkuat langkah pengendalian emisi, IMO merevisi MARPOL Annex VI, yang mewajibkan pelaporan data lebih rinci serta penerapan prosedur pengurangan emisi. 

Aturan ini berlaku untuk semua kapal kargo internasional dan kapal penumpang dengan ukuran tertentu yang terdaftar di negara anggota konvensi. Ketentuan baru ini mulai diberlakukan pada 1 November 2022 dan akan ditinjau kembali pada 2026.

Konsep Carbon Intensity (CI) dan CII

Tahap awal penerapan kebijakan IMO adalah pengurangan Carbon Intensity (CI). Setiap jenis kapal diwajibkan menghitung Carbon Intensity Indicator (CII) setiap tahun. 

Hasil penghitungan ini menjadi dasar bagi pemilik kapal untuk menyusun rencana pengurangan CI sesuai target tahunan yang berlaku khusus untuk masing-masing kapal.

Berdasarkan IMO, penerapan CII akan menghasilkan penurunan emisi sebesar 11% pada kapal yang menerapkan aturan selama periode 2019 hingga 2026. Target ini sejalan dengan strategi IMO tahun 2018 yang menginginkan penurunan intensitas karbon sebesar 40% pada tahun 2030 dibandingkan tahun 2008, serta penurunan total emisi gas rumah kaca sebesar 50% pada 2040.

Penerapan EEOI melalui beberapa tahap antara lain:

  1. Menentukan periode waktu pengukuran.
  2. Menyusun rencana pengumpulan data operasional kapal.
  3. Mengumpulkan data terkait bahan bakar, jarak tempuh, dan jenis muatan.
  4. Mengolah data menjadi format yang bisa dianalisis.
  5. Menghitung nilai berdasarkan data yang tersedia.

Penerapannya membawa sejumlah dampak baik pada lingkungan dalam mitigasi pemanasan global

Dari sisi lingkungan, indikator ini membantu menekan emisi karbon dari kapal, sehingga berkontribusi dalam upaya mitigasi pemanasan global dan penerapan rama lingkungan dalam industri pelayaran.

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Apa itu EEOI Dalam Industri Pelayaran dan Perkapalan"