Sudut Bahaya Mendatar dan Sudut Bahaya Tegak

Sudut bahaya mendatar atau disebut juga horizontal danger angle digunakan pada saat kapal akan melewati suatu perairan dimana tempat itu terdapat bahaya-bahaya navigasi yang cukup padat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa kapal sedang berada dalam posisi yang aman serta memiliki jarak yang aman terhadap bahaya - bahaya navigasi sekitar

Sudut Bahaya Mendatar 

Lalu bagaimana caranya untuk bisa memastikan bahwa kapal sedang berada dalam jarak yang aman terhadap bahaya navigasi tersebut. Hal yang harus dilakukan adalah tentukan 2 buah benda darat yang dikenal dan tercantum di peta yang berada disekitar bahaya navigasi tersebut. 

Hubungkan kedua benda darat tersebut dan buat lingkaran yang melingkupi semua bahaya navigasi itu. Pada lingkaran tersebut tentukan sembarang titik P, hubungkan titik P tersebut dan kedua benda darat tadi. Sehingga terbentuk sebuah segitiga dengan sudut alpha (<α).

Kapal akan berlayar dengan aman melewati bahaya itu bila pengukuran < APB (< α) harus lebih besar dari sudut β  yang diukur di kapal menggunakan sekstan, yaitu sudut mendatar AB. Jadi, β <  α, β < α dan seterusnya. Untuk memahaminya dengan jelas perhatikan gambar yang terdapat di bawah ini.

sudut bahaya mendatar
Menggunakan metode sudut bahaya mendatar untuk memastikan kapal tidak sedang berada dalam bahaya-bahaya navigasi

Dari gambar diatas jelas bahwa karena < β Lebih besar < α  maka berarti kapal aman melewati perairan tersebut.

Catatan :

Sudut (< α) menggunakan busur derajat pada peta dan < β menggunakan sekstan ( sudut mendatar yang diukur di kapal)

Sudut Bahaya Tegak (Vertical Danger Angle)

Sudut bahaya tegak (Vertical Danger Angle) digunakan pada saat kapal akan melewati suatu perairan dimana terdapat bahaya navigasi disekitarnya, dengan membaring sebuah benda darat (suar) yang tercantum di peta. Dengan cara membuat sebuah lingkaran dimana seluru bahaya - bahaya navigasi tercakup atau termuat di dalam lingkaran tersebut tepat di bawah benda darat itu.

Tarik garis tegak lurus dari lingkaran terluar hingga memotong permukaan air (Mean High Water Spring), kemudian ukur sudut yang terbentuk antara tinggi suar dan garis yang memotong itu (sudut α) menggunakan busur atau dapat juga dihitung dengan menggunakan rumus: "Jarak =  h x cotag α / 1852"

Kapal akan melewati bahaya navigasi itu dengan aman bila pengukuran sudut tegak yang dilakukan dari kapal menggunakan sekstan adalah < β harus lebih kecil dari < α. Jarak kapal ke suar adalah h x Cotag β / 1852.

sudut bahaya tegak
Membaring suar dengan metode sudut bahaya tegak untuk mengetahui kapal aman ketika melewati bahayaNavigasi disekitar perairan.

Keterangan, h adalah Tinggi suar dan MHSW sama dengan mean high water spring (Permukaan air)

Demikianlah penjelasan singkat ini tentang sudut bahaya mendatar dan sudut bahaya tegak, semoga dapat menambah wawasan pengetahuan bagi setiap orang yang membacanya.

Silahkan bagikan artikel ini ke sosial media agar dapat memberi manfaat secara luas secara khusus dikalangan para pelaut. 

Dan jangan lupa memberikan komentar di bawah untuk meninggalkan saran dan kritik bagi penulis agar website ini terus berkembang dalam menyajikan materi-materi dalam dunia pelayaran.

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Sudut Bahaya Mendatar dan Sudut Bahaya Tegak"