Jenis-Jenis Alat Bantu Bongkar Muat Di Pelabuhan
Proses bongkar muat merupakan salah satu kegiatan yang memerlukan level keamanan yang tinggi dalam dunia pelayaran dan logistik. Kecepatan, ketepatan, dan keamanan dalam memindahkan muatan dari dan ke kapal sangat dipengaruhi oleh jenis peralatan yang digunakan.
Seiring berkembangnya teknologi serta variasi jenis muatan, kapal-kapal modern kini dilengkapi berbagai alat bongkar muat yang dirancang untuk memudahkan pekerjaan sekaligus meminimalkan risiko kerusakan barang maupun kecelakaan kerja.
Setiap alat memiliki fungsi, karakteristik, serta cara penggunaan yang berbeda, mulai dari perangkat tradisional seperti guy dan winch hingga alat modern seperti fork lift dan deck crane.
Alat Bantu Bongkar Muat Di Pelabuhan
Crane
Crane merupakan salah satu alat bongkar muat utama yang banyak digunakan pada kapal maupun dermaga untuk memindahkan berbagai jenis muatan, mulai dari general cargo, peti kemas, log, barrel, hingga mesin berat. Crane memberikan fleksibilitas dan kekuatan angkat yang jauh lebih besar dibandingkan sistem boom tradisional, sehingga sangat membantu meningkatkan efisiensi operasi pelabuhan.
Selain dipakai di darat (port crane), banyak jenis kapal modern dilengkapi dengan crane sendiri (ship’s crane) sehingga dapat melakukan bongkar muat secara mandiri tanpa bergantung pada fasilitas pelabuhan. Hal ini sangat penting untuk kapal yang beroperasi di daerah yang minim fasilitas pelabuhan.
Fungsi Crane dalam Bongkar Muat Kapal adalah sebagai berikut:
- Mengangkat dan memindahkan muatan secara vertikal dan horizontal dari kapal ke dermaga atau sebaliknya.
- Mengakomodasi muatan berat yang tidak bisa diangkat oleh winch atau alat manual.
- Memberikan fleksibilitas operasional terutama bagi kapal yang tidak dilengkapi infrastruktur pelabuhan memadai.
- Mempercepat proses bongkar muat, sehingga mengurangi waktu kapal tinggal di pelabuhan (port stay).
Komponen utama crane terdiri dari beberapa bagian penting yang bekerja secara terpadu untuk memungkinkan proses pengangkatan dan pemindahan muatan. Boom atau jib merupakan lengan utama crane yang berfungsi untuk mengangkat dan menjangkau muatan.
Sistem hoist, yang terdiri dari tali atau kawat baja serta drum, bertugas menarik atau menurunkan muatan secara vertikal. Slewing system berperan sebagai mekanisme yang memungkinkan crane berputar atau melakukan rotasi sehingga muatan dapat dipindahkan ke area yang berbeda.
Untuk menyediakan tenaga bagi seluruh sistem, crane dilengkapi dengan hydraulic atau power unit sebagai sumber tenaga utama. Winch digunakan untuk menarik atau melilitkan wire rope, yang merupakan kawat baja berfungsi sebagai media penarik dan pengangkat beban.
Pada bagian ujung sistem pengangkatan terdapat spreader atau hook block, yaitu alat pengait atau pengunci muatan sesuai jenis barang yang diangkat. Pedestal menjadi pondasi yang menopang crane pada dek kapal, memastikan struktur tetap stabil dan aman selama operasi.
Guy
Guy atau disebut juga gai, dipergunakan untuk menahan boom saat memutar (swing) pada kedudukan tertentu. Gai ini terdiri dari kawat pelopor yang kemudian disambung dengan takal empat tali atau tiga tali dubang. Pada umumnya pelopor diletakkan pada ujung boom dan takalnya di dek. Pada kapal modern maka blok bawah dari takal itu disambung lagi dengan kawat yang kemudian diikat di dek.
Jika keadaan memaksa karena muatan dek dan untuk menjaga agar talinya tidak rusak, maka pemasangannya dapat dibalik, takalnya dipasang di atas dengan tali penariknya berada di blok yang atas. Apabila diperkirakan akan terjadi tegangan yang besar pada salah satu gai-nya, maka dipasang kawat yang kuat untuk menjamin agar tali gai-nya tidak putus. Kawat ini di kapal disebut boreh asal kata bahasa Belanda borg (jaminan) dan Bahasa Inggrisnya spare guy atau preventer guy.
Karena boreh fungsinya untuk menjamin agar tali gai tidak putus, maka cara memasangnya ialah tali gai itu harus agak lebih kencang sedikit dari pada kawat borehnya. Jadi waktu mendapat tegangan karena gai ada takannya, maka tali akan molor. Pada waktu molor maksimum maka sebelum putus kawat borehnya mengencang dan ikut menahannya.
Jika dipasang sebaliknya, yaitu kawat borehnya lebih kencang, maka waktu mendapat tegangan hanya borehnya saja yang akan menahan dan tidak terdapat elastisitas. Kalau borehnya putus, maka gai-nya tidak mungkin dapat menahannya. Pada umumnya PBM tidak mengerti hal ini dan banyak kita jumpai pemasangan borehnya lebih kencang.
Winch
Winch ada yang menyebutnya derek, dari kata Inggris derrick kadang juga berarti boom. Winch modern konstruksinya dari besi semua. Pelindung kawat reep, mesinnya, dan terutama tromol dari besi tuang yang mudah retak kalau jatuh atau kejatuhan benda berat, yang sukar dibetulkan di atas kapal karena lasnya khusus.
Model baru terdiri dari pelat-pelat besi yang mudah diperbaiki di atas kapal, sehingga lebih ekonomis. Kapal-kapal modern poros winch-nya terbuat dari besi tuang yang kuat.
Kepala winch dipasang pada bus yang diberi pelumasan. Gigi-gigi winch pada kapal modern kebanyakan terbuat dari besi tuang. Adapun alat penggerak winch terdiri atas:
- Tenaga listrik
- Tenaga uap
- Tenaga hidrolis
1. Winch Listrik
Pemasangan winch listrik di kapal biasanya dengan dua cara:
Cara pertama: ialah cara lama yang umumnya pada kapal tipe buatan sekitar 1950-an. Winch beserta motor dan motor penggerem dipasang di atas dek atau deckhouse. Sedangkan tahanan dan panel pengontrolnya dipasang di deckhouse atau di bawah dek-nya.
Cara kedua: ialah winch itu telah lengkap dengan motor remnya, tahanan, dan panel-panel pengontrolnya. Hanya switch atau kontak induknya saja (master switch) yang terletak di dek dekat palka.
2. Winch Uap
Winch uap sudah tidak dipergunakan lagi di kapal-kapal buatan setelah perang dunia ke-II. Di Indonesia masih ada satu winch uap peninggalan penjajah Belanda yang masih berfungsi dengan baik yaitu GAJAH LAUT milik PT. PAL Surabaya yang mempunyai daya angkat 150 ton.
3. Winch Hidrolis
Sesuai dengan namanya, tenaga penggeraknya ialah suatu cairan (minyak). Sebetulnya adalah elektro hidrolis, karena pompanya digerakkan oleh sebuah elektromotor. Jenis hidrolis ini banyak kerugiannya, karena tidak dapat dihentikan sinkron dengan gerakan handle-nya.
Oleh karena itu hanya sedikit kapal yang menggunakannya. Di samping itu spareparts dan biaya operasinya pun mahal. Yang banyak menggunakan winch hidrolis ini ialah log carriers, karena dapat mengerjai dengan cepat. Dengan bentuknya yang sedemikian rupa, sehingga demikian kecil kemungkinan terlepasnya lilitan kawatnya.
Beberapa kapal alat bongkar muatannya terdiri dari crane (deck-crane) di samping boom biasa. Hampir semua deck-crane dijalankan oleh tenaga listrik seperti gambar di bawah ini.
Sling
Sling, sebutan ini merupakan istilah yang sangat terkenal di kalangan pelaut, adapun sling adalah sebuah tali yang dipergunakan mengangkat atau mem-boom barang, dan jenis sling yang dipergunakan sangat bergantung dari jenis muatan dan barang yang akan diangkat.
Di bawah ini diuraikan beberapa jenis sling yang biasa dipergunakan, antara lain:
1. Sling Terpal (canvas), ini dibuat dari sepotong terpal yang dijahitkan pada tali 3", yang dipergunakan untuk pemuatan komoditi yang dikemas dalam karung atau sak. Seperti beras, kopi, kedelai, kacang.
Dengan menggunakan sling terpal maka tegangan karung di bagian luarnya akan terbaggi rata sehingga terjaga dari kerusakan.
2. Sling Papan, pada dasarnya sama dengan sling terpal. Badan terpalnya diganti dengan papan. Sling ini digunakan untuk muat bongkar muat barang yang mudah rusak seperti semen.
3. Sling Tali, sling tunggal digunakan untuk angkatan satu atau dua bagian sling tanpa ujung digunakan untuk angkutan dua atau empat angkatan.
4. Sling Kawat, sling ini pada umumnya disangkutkan ke cincin dan pada tiap ujungnya dipasangi ganco dengan pengaman atau mata timil agar dapat mencengkeram segel.
5. Sling Tunggal (Snotters), biasanya dibuat dari tali manila, kawat, nilon yang ada mata/simpul di kedua ujungnya, yang panjangnya 4–8 meter. Barang atau muatan yang akan diangkat diletakkan di bagian tengahnya, lalu salah satu ujung tali dimasukkan ke dalam mata/simpul pada ujung yang satu dan diikatkan pada alat derek.
6. Sling Jala-jala (Nets), Atau jaring digunakan untuk mengangkut barang-barang atau paket kecil seperti tas, dan sebagainya.
7. Strong Wooden Trays, sejenis nampan yang digunakan untuk mengangkat sejumlah barang ukuran kecil seperti kaleng-kaleng cat atau minyak, peti-peti yang berisi botol atau kaleng dan paket-paket lain yang bisa diangkat dengan mudah. Nampan ini dibuat untuk mengangkut barang dengan beban sampai 1½ ton dan diangkat dengan 4 tali.
8. The Bridle, terbuat dari 4 tali kawat atau serabut yang sama panjangnya. Pada salah satu ujung tali disambungkan dengan sebuah cincin besi, ujung lainnya pada sebuah mata kait dengan satu kait untuk masing-masing mata kunci (eyebolts) pada sudut nampan strong wooden tray. Kemudian cincin tadi diikatkan pada mesin kerek untuk mengangkat barang.
9. Can Hooks, Digunakan untuk mengangkat tong-tong kecil yang tidak berisi cairan (sesuai peraturan). Tali yang digunakan can hook itu bisa tali ataupun rantai. Pengait can hook itu akan mengangkat dari bagian bawah tong-tong tersebut.
10. Chair Slings, tali yang memiliki sebuah kait pada salah satu ujungnya dan sebuah mata rantai besar pada ujung satunya lagi. Tali ini digunakan untuk mengikat barang-barang yang berat dan kasar seperti balok-balok besi, lempeng-lempeng besi dan barang-barang agrikultural.
Rantai-rantai tersebut diikatkan sekali pada barang yang akan diangkat atau jika perlu dua kali dan bagian yang satunya diikatkan di sekeliling rantai. Kemudian mesin kerek diikatkan pada sebuah mata rantai besar untuk mengangkat barang.
11. Spreaders, merupakan alat yang terdiri dari kawat-kawat yang bisa digunakan untuk mengangkat barang-barang atau muatan yang sulit diangkat. Fungsi spreader dengan sejumlah kaitan yang terpasang pada adalah untuk mengangkat muatan atau barang yang beratnya berlebihan dengan mudah dan cepat. Spreader kontainer misalnya dirancang khusus dengan simpul-simpul mati untuk menahan kontainer saat diangkat.
12. Bull Ropes, merupakan tali yang digunakan saat mengangkut ketika barang-barang harus didrag dari ujung atau tepi palka ke palka yang berbentuk kotak pada lubang palka sebelum diangkat.
Salah satu ujungnya dilingkarkan pada muatan yang akan diangkat, lalu diikatkan sementara ujung yang lain dilewatkan ke sekeliling mesin derek kemudian kembali ke tiang lalu diikat. Setelah dipastikan bahwa tali tersebut sudah cukup kuat, maka diturunkanlah barang tersebut ke dalam palka perlahan-lahan secara horizontal kemudian ujung talinya dilepaskan.
Fork Lift Trucks
Dalam banyak proses perdagangan, fork lift trucks memegang peranan penting sebagai peralatan bongkar muat barang atau muatan. Beberapa kapal membawa sejumlah fork lift truck untuk pengangkut, sementara yang lainnya lebih mengandalkan buruh pelabuhan.
Bagi sebuah kapal yang menggunakan fork lift pengangkut seperti ini, tween decks atau palka-palka atasnya harus diperkuat dan bebas dari gangguan. Prinsip Penanganan muatan dimana dimuat dan disimpan pada pallet atau kerangkeng yang dapat diangkat dan dibawa oleh fork lift tersebut. Meski barang dimuat pada kerangkeng itu membutuhkan banyak tempat namun dalam hal ini, kecepatan bongkar muat barang lebih diutamakan.
Fork lift truck ini dijalankan dengan menggunakan baterai yang populer digunakan pada angkutan kapal. Beberapa kapal secara khusus dirancang untuk bongkar-muat menggunakan fork lift trucks. Selain secara konvensional, kapal-kapal ini memiliki sisi atau pintu-pintu buritan dan elevator dalam kapal yang membawa dapat pallet atau kerangkeng ke tingkat dek yang berbeda-beda.

Post a Comment for "Jenis-Jenis Alat Bantu Bongkar Muat Di Pelabuhan"
Sobat pelaut yang ingin bertanya atau berbagi pengalaman silahkan tinggalkan komentar di bawah ini.
Post a Comment