Mengapa Lambung Kapal Bisa Berkarat dan Mengalami Penipisan?

Lambung merupakan bagian kapal yang terus berhadapan dengan lingkungan laut. Selama beroperasi, lambung terpapar air laut, kelembapan, garam, gelombang, perubahan temperatur, sinar matahari, organisme laut, dan berbagai kontaminan. Jika tidak dilindungi dan dirawat dengan baik, paparan tersebut dapat menyebabkan degradasi material secara bertahap.

Kerusakan biasanya tidak langsung terlihat dalam bentuk kerusakan besar. Prosesnya dapat dimulai dari coating yang rusak, titik karat, pertumbuhan teritip, atau deposit garam, kemudian berkembang menjadi korosi, pitting, erosi, kehilangan ketebalan pelat, hingga penurunan integritas struktur.

kenapa lambung kapal bisa rusak dan berkarat

Mengapa Air Laut Merusak Lambung Kapal?

Air laut merupakan lingkungan yang agresif terhadap material kapal, terutama baja. Kandungan garam dan ion klorida mendukung proses elektrokimia, sedangkan kelembapan dan aerosol garam dapat mempertahankan kondisi yang memungkinkan korosi berlangsung.

1. Air Laut dan Ion Klorida

Air laut berfungsi sebagai elektrolit yang membantu berlangsungnya reaksi korosi pada permukaan logam. Salah satu bentuk yang perlu diperhatikan adalah pitting corrosion, yaitu jenis korosi yang dapat menghasilkan lubang kecil tetapi cukup dalam. Korosi juga dapat berkembang pada celah sempit atau sambungan melalui crevice corrosion.

Laju korosi tidak sama pada setiap kapal karena dipengaruhi material, kondisi coating, temperatur, oksigen, salinitas, kecepatan aliran, desain struktur, dan kondisi permukaan.

2. Kelembapan dan Atmosfer Laut

Bagian lambung di atas garis air juga dapat mengalami korosi. Aerosol garam dari laut dapat menempel pada permukaan baja dan, ketika kelembapan tinggi, membentuk lapisan elektrolit tipis yang mendukung proses korosi.

Area seperti sambungan las, stiffener, bracket, scupper, dan drain perlu diperhatikan karena air atau kelembapan dapat lebih mudah tertahan di lokasi tersebut.

3. Marine Fouling

Bagian lambung yang terendam dapat ditumbuhi alga, barnacle atau teritip, moluska, dan organisme laut lainnya. Kondisi ini dikenal sebagai marine biofouling.

Fouling membuat permukaan lambung menjadi lebih kasar sehingga hydrodynamic drag meningkat. Kapal kemudian membutuhkan daya lebih besar untuk mempertahankan kecepatan, yang dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar dan emisi.

IMO juga menempatkan pengelolaan biofouling sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi sekaligus mengurangi risiko perpindahan spesies akuatik invasif.

4. Kerusakan Coating

Coating merupakan lapisan pelindung yang memisahkan baja dari lingkungan. Namun, air laut, abrasi, benturan, sinar UV, perubahan temperatur, dan pergerakan struktur dapat menyebabkan coating mengalami blistering, cracking, peeling, flaking, delamination, abrasion, atau kehilangan daya lekat.

Ketika lapisan pelindung rusak, baja menjadi lebih mudah terpapar air dan oksigen sehingga korosi dapat berkembang.

Untuk kapal tertentu, IACS Common Structural Rules (CSR), Enhanced Survey Programme, dan Performance Standard for Protective Coatings (PSPC) menjadi bagian dari kerangka teknis untuk menjaga integritas struktur.

5. Gelombang, Arus, dan Turbulensi

Pergerakan kapal melalui air menghasilkan gaya hidrodinamis yang berbeda pada setiap bagian lambung. Aliran cepat dan turbulensi dapat mempercepat kerusakan coating serta menyebabkan erosion-corrosion, terutama pada permukaan yang sudah mengalami kerusakan.

Area seperti sea chest, sea inlet, sekitar rudder, propeller tunnel, dan thruster tunnel perlu mendapatkan perhatian karena dapat mengalami aliran dan turbulensi yang tinggi.

6. Perubahan Temperatur dan Sinar UV

Perubahan temperatur menyebabkan struktur mengalami thermal expansion dan contraction. Siklus panas-dingin yang berulang dapat memberikan tegangan pada material dan coating. Perbedaan sifat antara coating dan baja juga dapat memengaruhi daya lekat lapisan ketika temperatur berubah.

Sementara itu, sinar ultraviolet dapat mempercepat degradasi coating tertentu, misalnya menyebabkan perubahan sifat permukaan atau berkurangnya fleksibilitas. Di wilayah tropis, pengaruh UV berlangsung bersamaan dengan temperatur tinggi, kelembapan, hujan, dan aerosol garam.

7. Polusi dan Kontaminan

Partikel debu, aerosol industri, dan kontaminan tertentu dapat menempel pada permukaan kapal, terutama ketika kapal sering berada di kawasan pelabuhan atau industri. Jika bercampur dengan air atau kelembapan, kontaminan tersebut dapat memengaruhi kondisi permukaan dan memperburuk korosi.

Tingkat pengaruhnya bergantung pada jenis kontaminan dan kondisi lingkungan sehingga tidak tepat menggunakan satu nilai pH atau parameter tertentu sebagai patokan universal untuk semua lokasi.

8. Siklus Basah dan Kering

Wet-dry cycling banyak terjadi pada waterline dan splash zone. Permukaan lambung yang basah kemudian mengering dapat meninggalkan garam. Ketika kembali terkena air, garam tersebut larut dan membentuk elektrolit.

Siklus berulang ini membuat area garis air menjadi salah satu lokasi yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan coating dan korosi.

Cara Melindungi Lambung Kapal

Perlindungan lambung harus dilakukan melalui pemeliharaan yang terencana, bukan hanya memperbaiki kerusakan setelah terlihat.

1. Gunakan Coating yang Sesuai

Pemilihan coating harus disesuaikan dengan lokasi penggunaannya, karena kebutuhan underwater hull, boot-top, topsides, ballast tank, dan area internal berbeda.

Kualitas surface preparation juga sangat menentukan. Proses blasting, pengecatan, curing, pengukuran dry film thickness (DFT), dan inspeksi harus dikendalikan agar coating memiliki daya lekat dan perlindungan yang baik.

2. Gunakan Sistem Antifouling yang Tepat

Antifouling digunakan pada bagian lambung yang terendam untuk mengendalikan pertumbuhan organisme laut. Pemilihannya harus mempertimbangkan efektivitas dan ketentuan lingkungan.

AFS Convention mengatur penggunaan sistem antifouling tertentu dan melarang atau membatasi bahan yang berbahaya bagi lingkungan laut, termasuk pengendalian terhadap organotin dan cybutryne.

3. Lakukan Inspeksi Lambung Secara Berkala

Inspeksi diperlukan untuk mengetahui kondisi coating dan struktur sebelum kerusakan berkembang. Pemeriksaan dapat mencakup korosi, pitting, retak, deformasi pelat, sambungan las, fouling, sea chest, anoda, serta ketebalan pelat.

Ultrasonic Thickness Measurement (UTM) dapat digunakan untuk mengukur kehilangan ketebalan secara kuantitatif oleh personel yang kompeten sesuai persyaratan survei dan klasifikasi.

Riwayat hasil inspeksi juga penting karena dapat menunjukkan lokasi dan pola degradasi yang berulang.

4. Manfaatkan Dry-Docking dan Underwater Inspection

Dry-docking memungkinkan pemeriksaan bagian bawah lambung secara lebih menyeluruh. Kegiatan dapat mencakup pembersihan, pemeriksaan coating, pengukuran ketebalan, pemeriksaan propeller dan rudder, perbaikan pelat, penggantian anoda, serta perbaikan atau aplikasi ulang coating dan antifouling.

Dalam kondisi tertentu, in-water survey juga dapat dilakukan sesuai persyaratan Flag Administration dan Classification Society.

5. Kelola Biofouling Secara Sistematis

IMO telah mengadopsi 2023 Guidelines for the Control and Management of Ships' Biofouling melalui MEPC.378(80). Pedoman tersebut mendorong pengelolaan biofouling secara sistematis untuk mengurangi risiko perpindahan spesies akuatik invasif.

Pengelolaan dapat mencakup pemantauan kondisi lambung, penggunaan antifouling, pembersihan sesuai kebutuhan, dan pencatatan riwayat fouling. Pembersihan bawah air juga harus dilakukan dengan metode yang tepat agar organisme atau material yang terlepas tidak menimbulkan dampak lingkungan.

6. Berikan Perhatian Khusus pada Waterline

Waterline dan splash zone mengalami perubahan kondisi yang cepat karena bergantian terkena air laut, udara, gelombang, sinar matahari, dan perubahan temperatur.

Karat lokal, blister, pengelupasan coating, retakan, dan deposit garam pada area ini sebaiknya segera diperiksa dan ditangani sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.

7. Sesuaikan Perawatan dengan Area Operasi

Setiap kapal menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda. Kapal yang sering beroperasi di wilayah tropis, perairan dengan fouling tinggi, kawasan industri, atau lingkungan dengan salinitas tertentu dapat membutuhkan strategi inspeksi dan pemeliharaan yang berbeda.

Karena itu, program perawatan sebaiknya mempertimbangkan kondisi aktual kapal dan riwayat kerusakan, bukan hanya umur kapal atau interval kalender. Pendekatan ini membantu menentukan area yang perlu mendapatkan prioritas.

Yakob Taruklangi
Yakob Taruklangi I am Yakob Taruklangi, a professional seafarer as a Deck Officer on tanker ship and offshore vessel. Throughout my career, I have gained valuable knowledge and experience in the maritime industry, which I am passionate about sharing with others. Writing allows me to reflect on my journey at sea and provide insights into shipping, seamanship, and life onboard, with the hope of contributing to the wider maritime community.

Post a Comment for "Mengapa Lambung Kapal Bisa Berkarat dan Mengalami Penipisan?"